WELCOME, GUEST   |   LOGIN   |   REGISTER !
SEARCH

Ekonomi
Eksklusif
Human Interest
Olahraga
Pendidikan
Perspektif
Politik
Seni & Budaya
Tentang Kami
     
 

Sukses Puspita Untuk Wadokai

Efisien, cepat, lugas dan bertenaga, begitulah gambaran penampilan Puspita, Atlet Karate Perguruan Wadokai, Jawa Tengah pada nomor Final Best Of The Best Putri Kasad Cup IX 2008.Kenangan manis untuk Puspita, karena berhasil membawa pulang Piala Kasad tahun ini.

Pada partai final tersebut, meski terus ditekan oleh Karateka Putri DKI, Jenny Zeanet sepanjang pertandingan, Puspita yang bernama lengkap Puspita Triana Gustin ini, dengan tenang mampu mengatasi gempuran-gempuran Jeany.

Hampir keseluruhan Nilai Wazari yang diraih Puspita pada pertandingan itu, tercipta lewat serangkaian counter serangan, “adu cepat” dengan Jeany yang lebih berinisiatif menyerang. Jeany yang juga juara kelas -53 kg tampaknya tidak ingin memberinya kemenangan mudah.

Prestasi Puspita cukup memuaskan kubu Wadokai kali ini. Padahal, dia sudah meraih perunggu untuk kelasnya sendiri, - 60 kg.

"Saya tidak keder menghadapi Jeanny Zenet meski ia tampil sebagai juara di kelas - 53 kg. Pasalnya, dalam pertandingan sebelumnya di Maesa Cup, saya juga mampu mengalahkannya dalam pertandingan nomor “best of the best” juga," papar gadis manis ini kepada iwanfals.co.id

"Senang, bangga dan bersyukur, serta tak bisa ngomong lagi,” katanya, karena mampu menyuguhkan lambang supremasi tertinggi Piala KSAD bagi perguruannya.

Baginya, ini sebuah anugerah yang luar biasa. Dia juga berterimakasih pada Tuhan. Kepada semua kawan-kawan, serta rekan yang sudah mendukungnya. Para pelatih, Sensei Monginsidi, Sensei Tomy Firman, Sensei Iwan Fals, Sensei Norman, Sensei Yoyok, “Semuanya tidak bisa disebutkan satu per satu. Terutama juga kepada kawan-kawan yang sudah menjadi teman separing, hingga mendapatkan yang terbaik kali ini,” kata Puspita.

Meski sudah punya reputasi di dunia, maupun Asia Tenggara, Puspita mengaku sangat berkesan ketika tampil sebagai peraih Piala Kasad tahun ini. Ini karena Piala Kasad merupakan kejuaraan terbesar dan bergengsi Karate di Indonesia. “Bahkan ada yang berpendapat pamor Kejuaraan Piala Kasad mengalahkan PON Karate,” tambahnya.

Puspita sendiri mengenal Karate, sejak umur enam tahun. Dikenalkan ayahnya dengan olah raga tangan kosong itu karena ayahnya adalah seorang pelatih di Dojo Salatiga. “Ikut ayah melatih, dan jadi tertarik Karate,” tambah dara kelahiran 1988 di Salatiga ini.

Beberapa Gelar Karate sudah diraihnya,diantaranya dua kali meraih gelar best of the best Piala Mendagri tahun 2003 di Batam dan tahun 2007 di Palembang.

Dia juga pernah meraih gelar Best Of The Best di Piala Kasad, Best of the best Kejuaraan UNS tahun 2005, Perunggu Sea Games Manila, Perunggu Kejuaraan Asia di Sabah, Perak Kejuaraan Asia di Macau.

Kedepannya, dia berharap bisa memberikan yang terbaik bagi dunia olah raga Karate Indonesia, terutama bagi perguruannya, Wadokai, serta berharap keberhasilannya memicu Pengda Forki Jawa Tengah agar lebih memperhatikan teman-temannya, sesama atlet dan pelatih di Salatiga.

Untuk teman-temannya di Wadokai, dia berpesan, jangan putus-putus berlatih, tidak lupa berdo’a, bersyukur, tetap rendah hati, serta jangan cepat puas atas apa yang sudah diraih. dri

Berita Lain

1   Piala Thomas dan Uber Lepas, Karena Pemerintah Sibuk Urus Politik
2   PSSI Sekarang Ini
3   Kendati Positif, PORPI Belum Didukung Pemerintah
4   PORPI Padukan Senam dan Pernapasan Selama 23 tahun
5   Mendesak Pemahaman Wasit Terhadap Peraturan Baru Karate
6   Andre Wetsel, Pelatih Bola Kelahiran Surabaya
7   Somjit Dari Tinju Beralih Jadi Penyanyi
8   Skateboard Terus Berkembang Meski Sarana Seadanya