WELCOME, GUEST   |   LOGIN   |   REGISTER !
SEARCH

Ekonomi
Eksklusif
Human Interest
Olahraga
Pendidikan
Perspektif
Politik
Seni & Budaya
Tentang Kami
     
 

Iwan Fals: Hadirmu Memberi Warna Gus...

Oleh: Andri Oktavia, Teguh S, Djoko Dwi P

Sebagai seorang musisi, Iwan fals termasuk yang beruntung. Karena dia sempat beberapa kali bertemu muka, atau bercengkrama dengan (Alm) KH Abdurahman Wahid, yang kerap disapa Gus Dur.

Dari sana, Iwan mengenal Gus Dur, kendati tidak dalam keseharian, melainkan hanya lewat pandangan-pandangannya yang universal, lintas sektaraian, cerdas, berani dan sederhana. Gus Dur mengajarinya banyak hal. Termasuk ilmu ’bisa karena biasa’ yang diperolehnya dan memperkaya wawasan serta gagasan hidup seorang Iwan Fals.

Kepada iwanfals.co.id, musisi yang sebentar lagi akan merilis album baru berjudul Keseimbangan ini, menuturkan beberapa momen penting hingga dia bisa mengenal sosok Gus Dur lebih dekat.

Namun sebelumnya, iwanfals.co.id sempat menanyakan sedih atau tidak, karena berpulangnya Gus Dur. Iwan menjawab spontan, ”Mungkin ada di tengah-tengahnya. Tetapi kehadiran Gus Dur jelas membuat saya senang,” tambah Iwan.

Kendati ada di pertengahan, antara sedih dan tidak, Iwan menyatakan bangsa ini kehilangan sosok pembela demokrasinya. Konsistensinya bahkan tergambar jelas di keluarga Gus Dur.

Masih segar dalam ingatan, ketika putrinya Inayah berambut pirang, tampak betul kebebasan berekspresi keluarganya dihargai Gus Dur. ”Kata dan perbuatan Gus Dur betul-betul selaras. Kita kehilangan dia,” tutur Iwan

Pertemuan-Pertemuan Berarti
Awalnya Iwan bertemu muka dengan Gus Dur, jauh sebelum lengsernya Soeharto, Presiden RI ke-2. Saat itu di sebuah tempat pertemuan forum pro demokrasi.

Iwan, kendati tidak tertarik kutub politik mana-mana, hadir dalam kapasitas sebagai musisi yang diundang dan menyuarakan pentingnya penegakan prinsip-prinsip demokrasi, yang saat itu ditekan habis-habisan oleh Soeharto.

Pada kesempatan itu, dia bertemu dengan KH Abdurrahman Wahid, serta beberapa aktivis pro demokrasi lainnya. Dia sempat menyanyikan beberapa buah lagu. Satu diantara yang masih diingatnya adalah Dalbo.

Itulah kali pertama Iwan Fals mengenal dan bertemu secara langsung dengan Gus Dur. Dari perkenalannya tersebut, lantas silaturahmi diantara mereka jalan terus, meski hanya lewat telepon. Tak berapa lama berselang, Iwan Fals berduka oleh kepergian Galang Rambu Anarki (putranya -red).

Waktu itu Iwan mengaku sempat kebingungan, sebab dia ingin memakamkan putranya, layaknya konsep pemakaman keluarga, di sekitar rumah. Dan lebih utama agar lebih dekat menziarahinya. ”Bagaimana kalau dia kami makamkan di sekitar rumah Jakarta Gus?” urai Iwan waktu itu melalui telepon.

Kendati tidak melarang, Gus Dur juga tidak mengiyakan boleh atau tidak memakamkan keluarga di lingkungan rumah yang berada di kota Jakarta, yang sudah padat. Gus Dur mengisyaratkan, di kawasan Bogor yang belum terlalu padat, mungkin masih bisa memakamkan keluarga di lingkungan rumah.

Tak berapa lama, Iwan terpikir untuk memakamkan putranya tersebut di kawasan Leuwinanggung, Depok. Waktu itu dia belum berpindah rumah dari Bintaro, dan saat itu Leuwinanggung adalah kawasan yang masuk wilayah Bogor. ”Masukan dari Gus Dur yang paham hukum agama dan negara, sempat membuat tenang dan merasa yakin,” tambah Iwan.

Setelahnya, waktu berselang. Masih sekitar era 90-an, Iwan sempat beberapa kali bertemu muka dengan Gus Dur. Di era Kantata Takwa, bersama personil Kantata, dia sempat berkunjung ke rumah Gus Dur di Ciganjur. Saat itu menurut Iwan, banyak khalayak datang ke rumah Gus Dur. Sebagian diantaranya para tokoh politik, mahasiswa, rakyat jelata, serta kalangan Islam.

Semua mengantri bertemu dengan Gus Dur, sekedar bercengkrama atau malah ada yang terlibat di pembicaraan-pembicaraan serius. Saat itu, Rendra sempat marah kepada beberapa kalangan politik yang kebetulan ada di tempat tersebut. Gus Dur mendengar teriakan-teriakan Rendra.

Sesudahnya, giliran rombongan Kantata dan Swami yang diterima oleh Gus Dur. Istimewanya menurut Iwan, rombongan diterimanya langsung di kamar Gus Dur. ”Rendra, sama orang itu tidak boleh begitu, mesti sabar dan diajak bercanda,” urainya mengutip omongan Gus Dur kepada Rendra.

Dengan sendirinya, lewat omongan santai terhadap Rendra tersebut, Si Burung Merak menuruti permintaan Gus Dur, terutama agar dia bisa lebih tenang. Di kamarnya, semua tampak sangat santai, demikian pula Gus Dur, santai dan tak tampak raut lelah di wajahnya.

Beberapa selorohan termasuk lawakan khasnya bikin suasana ’gerrr!!!’ saat itu. ”Seperti tak ada lagi batas antara seorang yang pengetahuannya luas bak samudera itu, dengan kita,” tambah Iwan.

Bahkan Iwan sempat menanyakan, resep sabar dari Gus Dur, yang menerima kehadiran para tamu seperti tidak henti-hentinya saat itu, tentunya tanpa kehilangan jiwa kemanusiaannya, yang senang bergurau.

Pertanyaan tersebut bagi Iwan sangat penting, karena diapun dalam porsi yang berbeda, sering menerima kehadiran tamu di rumahnya, terkadang sempat juga kehilangan jiwa kemanusiaannya.

Lantas dengan singkat, Gus Dur menjawab pertanyaan Iwan. ”Biasa itu,” kutip Iwan menirukan kata-kata Gus Dur saat itu. Jawaban Gus Dur singkat, namun menurut Iwan pas, sebuah jawaban yang spontan.

Iwan lantas lebih membuka hatinya. Meski sebelumnya, orang tua dan beberapa kawannya, memberi jawaban senada. Jawaban Gus Dur tersebut memberi penegasan yang nuansanya menguatkan niatnya untuk belajar sabar, tanpa kehilangan jiwa kemanusiaan. Terlebih jawaban Gus Dur yang singkat itu disimpulkannya, sebagai sesuatu yang bisa dipelajari.

Waktu terus berganti, pertemuan selanjutnya, saat Setiawan Djody menggelar sebuah acara di rumahnya. Saat itu dia dan Gus Dur hadir. Ketika berjabat tangan sembari menyebut namanya, Gus Dur membuat Iwan terbengong. ”Ah koe meneh..!!” kutip Iwan yang terbengong karena merasa dianggap ’anak bawang’ oleh Gus Dur.

Tidak cuma diselorohi terus oleh Gus Dur, Iwan sempat juga dapat pujian. ”Iwan Fals? Wah dia itu orang yang berani,” urai Iwan, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya dipuji Gus Dur.

Sempat ”Jauh”
Rasa silaturahmi yang sudah terbina, kemudian memasuki babakan ”rasa jauh”. Ada sedikit pertanyaan Iwan, mengapa lantas Gus Dur menerima tawaran politik beberapa kubu politik untuk menjadi presiden? Aku tidak bisa menceritakan, mesti kecewa atau mesti senang perasaanku saat itu,” urainya.

Namun, Iwan Fals menyadari sepenuhnya. Orang sekaliber Gus Dur tentu punya pertimbangan-pertimbangannya sendiri, ketika mengambil sebuah peran politik yang lebih besar.

Namun, dia tetap tidak bisa mengesampingkan, politik berarti siapa mengalahkan siapa, Iwan mengaku ada rasa kehilangan, dari seorang kawan. Terlebih sesudahnya memang terasa terputus kontak antara dia dengan Gus Dur.

Kendati demikian, bukan sama sekali tidak mau mengambil perhatian dari tingkah polah Abdurrahman Wahid. Bahkan, dia mengaku gembira juga pada akhirnya, ketika Gus Dur menjadi Presiden. Gus Dur bisa mencairkan protokoler istana yang dikenal kaku selama ini. Istana jadi lebih merakyat.

Rekat Kembali
Lama tak berjumpa, usai lengser dari kursi presidennya, Iwan dan Gus Dur kembali bertemu. Di salah satu acara pencerahan budaya, yang intinya penguatan budaya sebagai pemersatu, yang lahir sebagai akibat kegagalan agama menyatukan perbedaan.

Gus Dur hadir bersama istrinya. ”Di sana kali pertama aku bertemu Gus Dur lagi, setelah lama tak berjumpa,” tambah Iwan. Kehadiran Gus Dur membuatnya gembira. Sebab pertimbangannya, ketika Gus Dur hadir, berarti dia sepaham dengan pemikiran yang berkembang saat itu, hanya budaya yang bisa mempersatukan rakyat.

Hubungan Iwan dan Gus Dur jadi rekat kembali. Hingga suatu saat Iwan Fals menggelar sebuah acara semacam renungan, di tahun 2009. Renungan tersebut tak berapa lama usai serangan Israel ke jalur Gaza. Disayangkannya Gus Dur tidak bisa hadir. Padahal, Gus Dur menurut Iwan, adalah orang yang paling ditunggu-tunggu kehadirannya. ”Aku kecewa juga saat Gus Dur tidak hadir. Tetapi mungkin dia punya pertimbangannya sendiri,” urainya.

Sosok Yang Dikagumi Pergi
Hadirnya Gus Dur menurut Iwan, benar-benar mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk eksistensinya memberi warna dunia politik Indonesia. Dianalogikannya, jika Gus Dur di dunia politik, maka ada Rendra di dunia seni.

Wawasan budaya, maupun sosial Gus Dur diakuinya sangat luas. ”Dia adalah pemerhati yang kritis mengenai budaya, teater, sepakbola,” urai Iwan. Baginya Gus Dur adalah orang yang patut dikagumi.

Di mata Iwan, Gus Dur adalah seorang ”pejalan”, yang banyak banyak hidup di jalanan. Karena itu, Iwan mengaku sangat menaruh hormat kepada Gus Dur.

Gitu Aja Kok Repot!
Gitu aja kok repot”, itu ungkapan Gus Dur yang masih diingat Iwan Fals. Iwan tahu, berdasarkan perspektif pemikirannya, dasar Gus Dur bicara seperti itu, karena masyarakat punya kebijakan dan jalan keluarnya sendiri. Demikian pula bagi Iwan, menurutnya rakyat punya jalan keluarnya atas persoalannya masing-masing.

Logisnya, sudah beberapa presiden berganti, nasib rakyat tidak pernah beranjak. Yang menjadi tukang bakso, tetaplah sebagai tukang bakso. Tidak ada yang membantunya, tidak juga pemerintah.

Demikian pula dengan jutaan rakyat kecil seperti seorang tukang rokok, hidupnya akan selalu demikian. Namun, hingga saat ini menurutnya mereka tetap tertawa, tetap hidup di gorong-gorong, begitupun tukang tambal ban.

Hebatnya, meski begitu mereka tetap punya semangat hidup. Berujung kepada pemerintah, yang seharusnya menyiapkan fasilitas untuk rakyatnya, semisal pemberian kredit agar nasib hidup mereka bisa lebih baik.

Kehadiran Gus Dur di beberapa saat dalam perjalanan hidup bangsa, membuka pintu-pintu pencerahan yang selama ini tertutup. Entah karena kesibukan semua orang, atau karena putaran waktu.

“Gitu aja kok repot”, Gus Dur ingin menjelaskan, masyarakat punya kebijakannya sendiri. Demikian juga dengan kata-kata biasalah itu biasa, hal tersebut adalah hal-hal yang sederhana. Tetapi jadi banyak hal dasar terlupakan oleh masyarakat sekarang, tidak bagi Gus Dur.

Iwan juga mengakui terkadang Gus Dur memiliki banyak perbendaharaan kata-kata ”bersayap”, namun bagi Iwan tidaklah terlampau penting. Dalam politik hal tersebut jadi biasa. ”Kalau menurutku, itu yang namanya bandul politik,” urainya sembari tertawa. Selamat jalan, Gus...!

Berita Lain

1   Hikmah Iwan Fals Ke Demak: Leuwinanggung-Demak Harapan Untuk Hijaunya Hari
2   Iwan Fals Tanam Pohon Trembesi di Demak
3   Perjalanan Religi Iwan Fals 2
4   Perjalanan Religi Iwan Fals 1
5   Album KESEIMBANGAN Iwan Fals Tajam Memotret dan Bicara Soal Sosial
6   Warga Rusun Klender Enggan Relokasi dan Pembangunan Rusunami Malaka Green
7   Memed Fals: Lagu-lagu Iwan Fals Jadi Inspirasi Hidup
8   Munas Oi ke-IV Sukses Meski Diwarnai Hujan Interupsi dan Walkout