WELCOME, GUEST   |   LOGIN   |   REGISTER !
SEARCH

Ekonomi
Eksklusif
Human Interest
Olahraga
Pendidikan
Perspektif
Politik
Seni & Budaya
Tentang Kami
     
 

Wajah KRL Jabotabek Tak Beranjak

Oleh Andri Oktavia

Jutaan masyarakat Ibukota dan sekitarnya menggantungkan kepentingannya di atas kereta listik (KRL) Jabotabek, tetapi sayangnya wajah perkereta apian khususnya kereta listrik Jabotabek kelas ekonomi, tetap tak beranjak, alias tidak manusiawi.

Wajah tidak manusiawi KRL JABOTABEK terlihat di jam-jam sibuk. Pada jam-jam masuk dan pulang kerja, di pagi hari mulai pukul 06.00 hingga pukul 09.30, dan sorenya sejak pukul 16.30 hingga pukul 19.00, kereta api tampak penuh sesak.

Kendati tertulis kapasitas gerbong normal, sesuai kursi sebanyak 54 orang, namun saat beroperasi terutama di jam-jam sibuk, tidak kurang 200 orang dijejali di dalam gerbong-gerbong KRL Ekonomi.

Efeknya, ketika ribuan orang sekali jalan menuju atau dari ibukota, tentunya banyak juga masalah yang ada, mulai ketidaknyamanan karena berdiri sembari berdesakan, hingga tak asing lagi bagi para penumpang jika mesti mandi keringat atau loyo ketika sampai di tujuannya.

Belum lagi urusan kriminalitas terutama pencopetan, pelecehan seksual, tawuran di kereta, kecelakaan akibat terjatuh bagi para penumpang yang berdiri di pintu-pintu kereta maupun duduk di atap kereta, makin menggenapi kisah nelongso para penumpang kereta.

Dulu, ketika tahun 90-an bertiup kabar akan datang puluhan gerbong kereta api dari Jepang, menggantikan gerbong-gerbong lama KRL senang rasa hati para penumpang KRL, tapi sayangnya gerbong-gerbong tersebut setelah datang sebagian besar dikhususkan bagi para penumpang kelas eksekutif dan AC. Lagi-lagi penumpang kelas ekonomi mesti gigit jari.

Wajah yang lebih manusiawi mungkin masih tampak pada KRL Ekonomi AC bertiket seharga Rp 5.500. Dari pantauan iwanfals.co.id, kendati tampak dijejali oleh jumlah penumpang yang setali tiga uang dengan KRL Ekonomi alias penuh sesak, penumpang KRL Ekonomi AC sedikit lebih nyaman terutama karena berada di dalam gerbong ber-AC.

Lucky (30) seorang wanita yang mengaku karyawati Hotel Red Top di kawasan pecenongan, mengatakan kepada iwanfals.co.id bahwa dia sangat bergantung dengan KRL, terutama KRL Ekonomi AC, karena disamping murah waktu tempuh KRL relatif singkat hanya ½ jam, dari Pasar Minggu, menuju Stasiun Juanda di Gambir.

Baginya, berdesakan sudah jadi semacam sarapan pagi, maupun makan sore atau malam, terlebih di dua waktu tersebut dia menggunakan jasa KRL. Tidak banyak permasalahan yang dihadapinya, ketika menumpang kereta ekonomi AC, kecuali lampu kereta yang kerap kali mati, hingga berbahaya juga terutama bagi penumpang wanita. “Takut kalau ada kejahatan, saat gelap, tolonglah diperhatikan masalah lampu ini,” tambahnya.

Kemudahan bagi para penumpang KRL juga ada, banyak para pengguna kereta yang mengejar waktu. Mereka diantaranya, memiliki motor maupun mobil. Hanya saja, kendaraan mereka dititipkan di penitipan mobil-motor sekitar stasiun.

Seperti yang terdapat di stasiun Pondok Cina, misalnya. Entah dibenarkan atau tidak, penitipan ini menggunakan lahan stasiun. Dan pemiliknya, dikabarkan Kepala Stasiun.

Setiap hari, tak kurang 200-an motor terparkir. Sementara, mobil mencapai tidak kurang 50 buah. Tarif penitipan, Rp 2000 untuk motor dan Rp 5000 untuk mobil. Jumlah tersebut untuk sehari parkir, dari pagi hingga malam. Sementara, jika kendaraan menginap, jumlahnya bertambah seharga tarif tersebut setiap harinya.

Sebagai gambaran, jumlah tersebut adalah jumlah minimal kendaraan. Sementara sering juga lahan persewaan ini penuh, dengan kapasitas dua kali jumlah kendaraan.

Pungli Sampai PKL Yang ”Dihabisi”
iwanfals.co.id mencoba melihat beberapa permasalahan yang terjadi di angkutan massa yang selayaknya terus dikembangkan, karena jenis angkutan yang satu ini, memang betul-betul angkutan massa, ketimbang busway misalnya.

Bukan cerita baru, jika di setiap perjalanan kereta dari Jakarta-Bogor maupun sebaliknya, kondektur yang bertugas memeriksa karcis, memperoleh penghasilan tambahan di atas kereta, berupa uang sogokan dari para penumpang yang tak memiliki karcis, kendati hal itu mulai jarang terlihat.

Masalah yang lain, lebih dua tahun belakangan, keberadaan pedagang kaki lima semakin terpojok di atas KRL. Mereka kebanyakan mencari makan di atas gerbong. Fungsi kereta sebagai jejaring sosial bagi ribuan pedagang asongan, pedagang tetap di peron-peron stasiun, tak lagi bisa diharapkan.

Demi alasan agar wajah KRL lebih tertib, para PKL dilibas keberadaannya. Padahal infrastruktur KRL juga belum memadai, tengoklah kipas angin di KRL Ekonomi, banyak yang sudah tidak hidup.

Bisa dibayangkan, ribuan orang sudah bermandikan keringat di dalam kereta, namun kesulitan membeli segelas air minum penghilang dahaga, saat pagi menjelang siang.

Akibatnya, ada pula pedagang yang nekat jualan secara kucing-kucingan di atas kereta dengan resiko ditangkap oleh petugas Pengamanan Khusus (PAMSUS) di pagi hari atau di malam hari menjelang maghrib.

Uniknya, petugas PAMSUS inilah yang jadi buah bibir bagi para PKL. Kebanyakan anggota PAMSUS adalah eks tim pengamanan di Stasiun Manggarai. Kencana Lima, biasa mereka disebut oleh kalangan PKL.

Kencana Lima ini, lantas dipecah penggunaannya menjadi petugas pengamanan di gerbong-gerbong kereta api. Rute operasi para petugas berseragam biru dongker dan mengenakan helm ini, Stasiun Depok – Pasar Minggu, dan satu tim lainnya mulai Stasiun Manggarai – Kota.

Pengamanan yang dilakukan, termasuk mencegah masuknya PKL ke dalam gerbong. Disamping itu, mereka juga bertugas menekan kriminalitas di atas kereta yang memang menurun jumlahnya. ”Ya kehadiran PAMSUS memang membuat pencopet ‘mikir-mikir’,” urai seorang penumpang asal Citayem kepada iwanfals.co.id.

Seorang petugas PAMSUS yang sedang melakukan obervasi di gerbong-gerbong kereta kepada iwanfals.co.id menyatakan bahwa tugas utama yang dilakukannya memang melakukan pengamanan di atas kereta, terutama pengamanan bagi penumpang kereta api atas tindak kejahatan pencopetan, maupun penodongan.

Sementara, cara pihaknya untuk mendeteksi para kriminal tersebut, melalui upaya pengamatan. ”Orang-orang yang kita curigai akan kita amati. Lantas kita tunggu sampai kita ‘menangkap tangan’ kejahatan yang dilakukannya,” urainya.

Sayangnya, PAMSUS ini justru dituding oleh PKL sekedar ”cari duit”, melanggengkan kebiasaan aparat-aparat terdahulu di atas kereta. ”Kita mesti bayar seharga 5 kali harga tiket Ekonomi AC, jika tertangkap mereka,” urai Marwan, seorang PKL kepada iwanfals.co.id, yang biasa mangkal di Stasiun Manggarai.

Lucunya, setelah menyodorkan uang sogokan terhadap mereka seharga Rp 30.000 para pedagang mesti turun di sebuah stasiun, disitulah transaksi terjadi. Setelahnya pedagang bisa berdagang kembali, selama tidak tertangkap. ”Semacam uang tebusan, kalau tidak dagangan kita disita,” urai lelaki asli Betawi ini.

Uniknya, menurut lelaki yang oleh Stasiun Manggarai masih boleh berdagang di peron ini, suatu kali dia pernah ditangkap oleh PAMSUS. Akan tetapi, karena kenal baik dengan para PAMSUS senior, yang sebelumnya ngepos di Stasiun Manggarai, dia dibebaskan, hanya membayar Rp 5000 kepada PAMSUS di salah satu stasiun kereta.

Keberadaan PAMSUS kerap kali dimusuhi oleh para pedagang. Bahkan, bukan cerita baru jika lantas ada PAMSUS dikeroyok oleh para pedagang PKL atau oleh ”anak-anak kereta”.

Keberadaan PKL yang membantu, sebetulnya amat dibutuhkan para penumpang di atas kereta, atau bahkan di peron-peron ketika para penumpang menunggu kereta. Hanya, butuh penataan atau pembatasan, agar keberadaannya tidak mengganggu, tidak dengan cara ”memusnahkan” mereka.

Pantauan iwanfals.co.id, di Stasiun Pasar Minggu dan Stasiun Pondok Cina Depok, sepintas memang tampak asri jadinya tanpa keberadaan PKL, tetapi lagi-lagi jadi susah juga mencari seteguk air kemasan jika dahaga datang, atau jajanan pengganjal perut jika lapar.

Padahal panjang peron bisa mencapai ratusan meter, hingga cukup jauh jika ingin membeli sesuatu, ke kantin di depan counter tiket, atau melompat menyeberangi rel, terutama di Stasiun Pasar Minggu. Setelahnya, baru pengguna kereta bertemu penjaja makanan atau minuman.

Sementara, di Stasiun Pondok Cina, pedagang masih bisa memanfaatkan pagar stasiun yang mepet dengan salah satu sisi peron arah Bogor. Akan tetapi di sisi lainnya, yaitu tadi, susah cari orang dagang.

Seorang pedagang, ibu seorang puteri, tampak hanya termangu menunggu dagangannya di sisi Pagar Stasiun Kereta Pasar Minggu. ”Sudah lebih 20 hari kita tidak boleh dagang di peron,” padahal biasanya paling lama hanya 15 hari, urainya sembari mengeluh peghasilannya turun drastis.

Untuk bisa berdagang, dia mesti membayar Rp 7000 per harinya, plus uang sewa lapak seharga Rp 100.000 per bulan, kepada seorang preman stasiun, sembari menyebut nama dan etnis tertentu yang jadi penguasa Stasiun Pasar Minggu. ”Mungkin uang tersebut tidak dibayarkan ke stasiun, hingga kita tidak boleh dagang di peron lagi,” urainya menduga.

PKL Masih Ada
Langkah yang cukup manusiawi justru diterapkan oleh Kepala Stasiun Manggarai, pedagang yang sehari-harinya berjualan di peron masih diijinkan berdagang oleh KS (Kepala Stasiun -red), asalkan jumlah para pedagangnya tidak bertambah.

Hanya di Stasiun Manggarai, pedagang masih bisa membuka lapaknya di peron. Itu karena sebagian besar pedagang, kuli, tukang ojek di stasiun Manggarai adalah para warga sekitar. ”Di stasiun lain memang setahu saya sudah tidak boleh ada PKL,” urai Arman.

Apa yang dikatakan Arman, paralel dengan yang disampaikan oleh Sumbudi, Kepala Stasiun Manggarai. Baginya, faktor masyarakat sekitar stasiun yang mencoba bertahan hidup, memang jadi pertimbangannya membiarkan para pedagang bebas membuka dagangannya.

Namun demikian, jika ada perintah dari atasannya untuk menertibkan pedagang, pihaknya mengaku tidak akan sungkan-sungkan untuk menertibkannya.

Kendati demikian, faktanya beberapa kali penertiban yang dilakukan oleh aparat stasiun manggarai terhadap PKL, tukang ojek di stasiun Manggarai kerap memancing keributan dari para PKL dan tukang ojek yang kebanyakan adalah warga sekitar. Berkali itu pula pihak stasiun mengalah.

Superman di KRL
Hal menarik lainnya, adalah keberadaan para penumpang yang berada di atap-atap kereta. Di setiap rute kereta kendati hanya beberapa gelintir, mereka masih kerap ditemui.

Namun, menyaksikan mereka duduk di atap kereta, dalam jumlah masif biasanya akan bisa ditemui pada jam-jam sibuk, pagi dan sore hari. Tidak peduli saat pagi hari ketika jam berangkat kerja, saat gelap pun gerakan para Superman ini bisa terekam telinga dari dalam gerbong, karena atap kereta berbunyi, ketika mereka berjalan di atas atap.

Jadi percuma juga, jika beberapa stasiun lantas memasang spanduk, denda Rp 15 juta atau kurungan tiga bulan bagi penumpang yang berada di atap atau ruang masinis. Faktanya, ribuan orang setiap harinya naik kereta dengan cara seperti ini.

Rata-rata para Superman ini adalah para anak muda, tinggal di Kawasan Depok, Citayam, Bojong Gede, hingga Bogor. Sebagian besar mereka adalah remaja tanggung, anak sekolah tanpa seragam, sebagian kecil lainnya para perkerja.

Mereka enggan menumpang di dalam gerbong, dengan alasan berada di dalam kereta sangat pengap atau kereta penuh, meski mereka gampang juga ditemui saat gerbong kosong. ”Mau gimana lagi, di dalam pengap, urai seorang Superman asal Depok.

Menumpang di atap, lebih mengasyikkan. Karena bisa merasakan tiupan angin, meski bahaya terjatuh atau kesetrum sewaktu-waktu, disadari mereka bisa saja terjadi.

Padahal, menurut beberapa penumpang lainnya apa yang dilakukan para Superman, hanya dilatari mencari kesenangan, sok-sok-an, cari ribut, sampai menghindar dari para kondektur.

Masuk akal juga, jika mendengar penuturan beberapa penumpang lainnya. Bayangkan, tak jarang para Superman ini memicu tawuran, lempar-lemparan antara kereta dengan warga sekitar rel.

Sumbudi, KS Manggarai bahkan menyatakan, keberadaan para Superman ini seringkali ditertibkan oleh aparat, termasuk para PAMSUS. Namun demikian setelah para Superman ini turun dari kereta karena dioprak-oprak aparatnya, tak berapa lama ketika kereta perlahan berjalan, mereka naik kembali.

Bahkan, jika para Superman beralasan merasa pengap atau gerbong kereta penuh, saat operasi pengusiran digelar, mereka dimasukkan ke gerbong dan ternyata bisa tertampung.

Yang ditakutkannya, kerap kali kecelakaan di atas atap terjadi, dan memakan korban serta menghambat seluruh perjalanan kereta. Sebab menurunkan seseorang dari atas atap bukan perkara mudah. ”Butuh waktu sejam, dan ini menghambat perjalanan kereta dan kereta lain, karena listrik di sepanjang jalur kereta mesti dimatikan,” tambah lelaki yang tiap harinya mengurus 450 rangkaian kereta yang datang dan pergi dari Stasiun Manggarai ini.

Berita Lain

1   Sasando, Agar Bisa Hidupi Musisi Timor
2   Nasib Para Jago Terbang Yang Terus Meroket
3   Batik Indonesia dari Seni, Tradisi, Hingga Penghidupan
4   Iwan Fals Di-Kick Andy
5   Tarung Bebas Kediri, Hasrat Bertarung Yang Tak Lekang Oleh waktu
6   Idealisme OCC, Bukti Eksistensi Yang Mesti Dipertahankan
7   Perlu Kesiapan Mental, Fisik dan Skill Agar Relawan Kerja Maksimal
8   Popularitas... Aya-Aya Wae