WELCOME, GUEST   |   LOGIN   |   REGISTER !
SEARCH

Ekonomi
Eksklusif
Human Interest
Olahraga
Pendidikan
Perspektif
Politik
Seni & Budaya
Tentang Kami
     
 

Peringatan 9/12 Di Jakarta Aman...

Oleh: Andri Oktavia

Aksi unjuk rasa peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia di Jakarta berlangsung aman. Sekitar 5000-an demonstran dari berbagai elemen masyarakat, hadir di lapangan silang monas Jakarta, yang berseberangan langsung dengan Istana Presiden.

Semenjak pagi pukul 10, massa pengunjuk rasa yang awalnya hanya didominasi oleh pengunjuk rasa dari Himpunan Mahasiswa Muslim Indonesia (HMI) dan IMM, berangsur mulai dipadati oleh kedatangan gelombang kedua pengunjuk rasa, yang terdiri dari organ Partai Rakyat Demokratik (PRD), serta LMND.

Sesudahnya, menurut pengamatan iwanfals.co.id puluhan organ mahasiswa, masyarakat, serta lembaga keagamaan secara bergelombang juga hadir, sehingga seluruh peserta Gerakan Moral Anti Korupsi, yang bernama ”Gerakan Indonesia Bersih” itu, mulai berjejal.

Dihadiri Tokoh dan Berbagai Elemen
Kelompok-kelompok yang hadir tersebut diantaranya, GMNI, IMM, Lima, BEM Se-Indonesia, Pemuda Ka’Bah, Pemuda Demokrat Indonesia, Prodem, Gemas, Kapak, SRMI, FNPBI, JAKER, STN, PI, Humanika, NU, Forum Facebooker dan sebagainya.

Keseluruhan peserta unjuk rasa anti korupsi tersebut, terkoordinasi dalam Gerakan Indonesia Bersih, yang beranggotakan 47 elemen mahasiswa maupun masyarakat umum.

Sementara itu, hadir dari kalangan aktivis pro demokrasi, diantaranya Fadjroel Rahman, Adhie Massardi, Usman Hamid, Rachlan Nasidik, Efendy Gozali, Eep Saefuloh Fattah, Ray Rangkuti, Yudi Latief, Marlo Sitompul dan lain-lain.

Acara juga tampak dihadiri oleh Edo Kondologit, Sandrina Malakiano, Dien Syamsudin, beberapa tokoh lintas agama, tokoh politik, seperti Ali Mukhtar Ngabalin (PBB), Yacobus K Mayong Padang (PDIP) dan sebagainya.

Hari menjelang siang, sementara dari podium para tokoh sudah berorasi, yang intinya menyuarakan pemberantasan korupsi dan meminta agar kasus Bank Century diusut hingga tuntas.

Selanjutnya, tampak beberapa peserta aksi massa dari berbagai kampus diantaranya memagari barisannya sebagai antisipasi terhadap perusuh. Apalagi tali pemisah antara demonstran dan masyarakat sekitar yang menonton aksi tersebut, tak lagi terlihat dibentangkan oleh aparat kepolisian yang jumlahnya tak kurang dari 4 SSK, di lokasi demonstrasi.

Namun, tak berapa lama usai memaki-maki petugas kepolisian, hingga menebarkan aroma ”panas” di salah satu sudut aksi, massa salah satu kampus di Jakarta Barat, yang jadi Kampus Reformasi, menarik massanya keluar dari areal pernyataan sikap tersebut.

Di acara tersebut, tampak hadir pula, Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) yang menarik antusiasme para fotografer, mereka hadir bertelanjang dada. Di punggung dan dada mereka, bertuliskan ”JIJIK”. Sementara mulut mereka menggunakan masker yang juga bertuliskan ”JIJIK”.

Semenjak kedatangan rombongan yang berjumlah tak kurang 40 orang ini, hingga beberapa saat menggelar orasi di bagian belakang areal unjuk rasa, belum diketahui rombongan ini ada di pihak mana. Hingga dari atas mimbar utama beberapa kali keluar peringatan, ”hati-hati provokasi”.

Menyusul kehadiran Komite Aksi Pemuda Anti Korupsi (KAPAK), yang mengusung dua ”pocong”, masing-masing disimbolkan sebagai Sri Mulyani dan Boediono, tokoh yang dituding terlibat pengucuran dana talangan bagi Bank Century sekaligus penghisap uang rakyat.

Salah satu elemen yang dikenal dekat dengan ORBA, Pemuda Pancasila (PP), urung bergabung dengan massa aksi. Lantas beberapa kendaraan pembawa rombongannya, hanya melintas di kerumunan aksi ini, sembari meneriakkan ”Gantung Koruptor” dan ”Hukum Mati Koruptor”.

Aksi Moral Tidak Ditunggangi
Aksi moral yang berlangsung aman, damai dan meriah ini, sekaligus mementahkan pernyataan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, yang sebelumnya beberapa kali menyatakan bahwa aksi anti korupsi tersebut sudah ”ditumpangi” kepentingan politik tertentu, hingga berujung ke upaya makar.

Di tengah aksi, kepada iwanfals.co.id Adhie Massardi menyatakan ikhwal tak sesuainya perkiraan massa yang hadir dengan kabar yang sudah beredar, bahwa demo kemungkinan akan dihadiri hingga 100-ribuan massa.

Menurutnya, beberapa elemen mahasiswa masih belum sampai ke lokasi aksi, karena berasal dari luar kota yang disiram hujan, atau masih di Bundaran HI.

Ikhwal gangguan atau provokasi dari pihak tertentu agar acara yang digelar hari ini menjadi rusuh, dirasakan Adhie. Menurutnya hal tersebut memang ada, namun pihaknya segera waspada. Apa lagi malam sebelum acara di gelar, SBY sudah mengeluarkan pernyataan yang lebih baik, dengan meralat tuduhan dan provokasinya.

Bahkan, Adhie menyatakan pihaknya (GIB-red) hanya sebagai mediator untuk melakukan pernyataan sikap atau gerakan moral anti korupsi. Sehinggga pihaknya tidak memberikan instruksi atau komanda khusus terhadap gerakan ini.

Itu mengapa, dengan cara dan modelnya sendiri gerakan anti korupsi di berbagai tempat juga bergulir. Bahkan, di Monas, selain panggung utama aksi, juga ada panggung orasi lain yang digelar peserta.

Hanya saja, jika sampai aksi massa di Monas ini rusuh, pihaknya mengaku siap menerima konsekuensinya, termasuk konsekuensi hukum. Terutama jika aparat keamanan menyalahkan pihaknya.

Pantauan iwanfals.co.id, pukul 14, usai pembacaan ”Deklarasi Indonesia Bersih 2009” tak berapa lama, panitia aksi membubarkan acara. Setelah sebelumnya, Dien Syamsudin menitip pesan damai: ”Jangan nodai gerakan moral ini dengan anarkisme. Pulanglah dengan tertib.”

Ada kesan, acara ini ditutup lebih awal. Mungkin panitia mempertimbangkan massa yang mulai mencair dengan warga yang menonton aksi tersebut. Disamping itu, juga mungkin tersiar kabar rusuh aksi serupa di Ujung Pandang.

Berita Lain

1   Bercermin dari kasus Usep: ”Tanpa Bantuan Hukum Bagi Orang Miskin Penyidikan Tidak Sah dan Dakwaan T
2   Menyelamatkan Korps, Karena ‘Markus’ Susno Digencet
3   Demo Skandal Century Ricuh Mahasiswa Jakarta dan Makassar Bergolak
4   Hj. Percha Leanpuri, Melayani Masyarakat diusia Belia
5   Menjalani Hukuman Tanpa Sidang Vonis Amir Machmud Ajukan PK
6   Perlu Kalangan Eksternal Mengawasi Kerja Kepolisian
7   Amnesty International: ”Masih Banyak Pelanggaran HAM dilakukan Polisi”
8   Prita Mulyasari, Keluhan Berbuntut Tuduhan