WELCOME, GUEST   |   LOGIN   |   REGISTER !
SEARCH

Ekonomi
Eksklusif
Human Interest
Olahraga
Pendidikan
Perspektif
Politik
Seni & Budaya
Tentang Kami
     
 

Dunia Konstruksi Indonesia Masih “Menggeliat”

Oleh Andri Oktavia

Konstruksi diharapkan menjadi handal, demikian pendapat Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto, kepada Media, di Jakarta (3/12). Menurutnya, pemerintah memiliki kepentingan agar dunia kontruksi menjadi handal.

Indonesia memiliki potensi yang besar bagi tumbuhnya kontruksi, menjadi bidang yang handal. Kontruksi yang handal tersebut diharapkannya berimbas pada pembangunan infrastruktur yang mudah, di negara ini.

Menurutnya, di belahan negara manapun, termasuk di Indonesia, tidak ada infrastruktur yang tidak terpengaruh oleh konstruksi, sehingga konstruksi patut ditumbuh-kembangkan.

Sejauh ini, untuk mengembangkan sektor konstruksi, pemerintah masih bertumpu pada APBN, demikian pula dengan pinjaman dari luar negeri. Namun, saat ini kedua sumber pendanaan itu tidak mencukupi untuk menutupi kebutuhan infrastruktur Indonesia, yang dinilainya amat besar.

Menteri mengaku apresiatif atas peran swasta di sektor infrastruktur, terutama melalui investasi swasta. Saat ini, tambahnya, swasta justru jadi penyumbang pembangunan infrastruktur dalam negeri terbesar, ketimbang pemerintah. ”Dari swasta justru kita memperoleh lebih besar sumber pembiayaan infrastruktur ketimbang dari APBN,” urainya.

Djoko memperkirakan kebutuhan infrastruktur akan terus tumbuh. Namun sayangnya hingga saat ini, APBN termasuk pinjaman luar negeri di dalamnya, hanya mampu menutupi 20% sumber pembiayaan pembangunan di sektor infrastruktur, selebihnya (80% -red) lebih banyak peran swasta.

Bicara soal dunia kontruksi, putra-putra Indonesia sudah berbicara di dunia Internasional. Dunia kontruksi Indonesia patut berbangga. Beberapa perusahaan kontruksi semisal PT Wijaya Karya (WIKA) dan PT Multi Structure, kerap memperoleh proyek di negeri orang.

Tahun lalu misalnya, PT WIKA mengerjakan proyek highway di Aljazair, yaitu Proyek Highway Algeria sepanjang 1300 kilometer. Proyek ini membelah Aljazair, menghubungkan perbatasan Tunisia di Timur, hingga berakhir di perbatasan Maroko sebelah barat.

Demikian pula dengan kontrak management fee WIKA yang telah rampung, menempatkan insinyurnya pada proyek Metro Dubai di UEA. Para insinyur tersebut bernaung di bawah bendera Yongnam, yang mengerjakan 26 stasiun kereta api di Dubai.

Tidak hanya WIKA, PT Multi Structure juga sudah membangun beberapa proyek di Saudi Arabia, Libya dan Brunei Darussalam. Tentunya, di luar proyek, jaringan serta networking perusahaan-perusahaan Indonesia tersebut juga bertambah luas.

Kisah di atas, sekelumit keberhasilan kontraktor Indonesia menggaet beberapa proyek di negeri orang. Sayangnya kebanyakan kontraktor Indonesia masih belum berani mengangkat benderanya sendiri, sebagai penerima proyek langsung, banyak yang ingin aman atau malah tak percaya diri, hingga memilih sebagai sub kontraktor.

Sementara itu pada 3/12-6/12, untuk memperkuat sektor konstruksi Indonesia, digelar Pameran Kontruksi di JCC, KONSTRUKSI INDONESIA 2009, yang bertema “Menuju Konstruksi Indonesia Yang Berkualitas dengan Menekankan pada Keselamatan & Kesehatan Kerja”.

Pameran tersebut diikuti lebih dari 50 peserta, yang didukung oleh Departemen Pekerjaan Umum, Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (LPJK), serta Misty Connection.

Para peserta diantaranya, PT Krakatau Wijaya Tama, Jasa Marga, dengan wahana andalannya Gardu Tol Otomatis (GTO) yang dilengkapi dengan perangkat e-toll card, Boral, Uretek, PT Wiratman serta PT Semen Gresik yang berkiprah di pembuatan Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura -red).

Disamping itu juga tampak PT Wijaya Karya (WIKA), Jaya Konstruksi, PT Adhimix Precast Indonesia, Departemen Pekerjaan Umum, Asosiasi Ahli Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Konstruksi Indonesia, JHS System dan sebagainya.

Beberapa display stand yang memperoleh apresiasi dari pengunjung, diantaranya GTO milik Jasa Marga, RTRW Bencana di Indonesia yang memungkinkan pertimbangan pembangunan hunian berdasarkan grade kemungkinan bencana semisal gempa.

Disamping itu, yang ramai menyedot antusiasme pengunjung adalah stand DPU Lampung, yang menampilkan maket rencana pembangunan Mega Proyek Jembatan Jawa-Sumatera (Jembatan Selat Sunda -red), yang mulai akan dibangun tahun depan.


Berita Lain

1   Mutiara, ”Jauh Di Laut Dekat di Hati”
2   Lambannya Penanganan Kasus Century Bikin Kerugian Ekonomi
3   Masih Lemah, Perlindungan Konsumen di Indonesia
4   Kasus Century Dapat Pengaruhi Investasi di Indonesia
5   Banjir Genangi Sebagian Besar Jawa
6   Sendal dan Sepatu Rumahan Bogor Tetap Hidup, Meski Sulit
7   Perbankan dan Lembaga Keuangan Kucurkan Kredit Untuk Koperasi dan UMKM
8   Hendi: Petani Jagung Semakin Meningkat