WELCOME, GUEST   |   LOGIN   |   REGISTER !
SEARCH

Ekonomi
Eksklusif
Human Interest
Olahraga
Pendidikan
Perspektif
Politik
Seni & Budaya
Tentang Kami
     
 

Iwan Fals dan Greenpeace Perjuangkan Lingkungan dan Kelestarian Hutan

Oleh: Andri Oktavia

Aktivitas penyelamatan lingkungan memang membutuhkan kerja yang tak tanggung-tanggung. Aktivitas yang kerap berhadapan langsung dengan pemerintah yang abai menjaga lingkungan, maupun industri yang mengeksploitasi habis-habisan sumber daya alam di suatu negara tanpa pertimbangan aspek lingkungan yang memadai, patut didukung semua orang.

Itu mengapa, Iwan Fals juga kerap melakukan aksi dukungannya terhadap aktivitas penyelamatan lingkungan, lewat ranah musik yang digelutinya, termasuk Aksi Sosial Iwan dan Tiga Rambu didukung TVS, yang kerap dilakukan.

Ketiganya, Iwan Fals, Tiga Rambu dan TVS pernah memberi dukungan kepada para nelayan yang menanami kawasan mangrove di Kota Pekalongan, Jawa Tengah beberapa bulan yang lalu, demikian pula dengan aksi sosial terkait penyelamatan hutan gambut di Semenanjung Kampar, Riau.

Dukungan bagi penyelamatan lingkungan lewat perjuangan Iwan di dunia musik, tambah semarak, karena belakangan TVS secara aktif didukung kegiatan pelestarian lingkungan.

”Penyelamatan Lingkungan”, bahkan menurut Iwan jadi salah satu tawarannya, ketika beberapa tahun silam mengambil peran sebagai ambassador terhadap pabrikan motor TVS.

Kepedulian Iwan Fals terhadap lingkungan, tak disangsikan lagi. Dalam hal terkecil, di kediamannya di Leuwinanggung beberapa jenis sayuran maupun bumbu dapur bagi kebutuhan konsumsi harian, ditanamnya sendiri.

Tentu saja, sayuran maupun bumbu dapur tersebut jadi lebih sehat dikonsumsi, karena bebas bahan-bahan kimia berbahaya, ketimbang sayuran yang dijual bebas.

Kesadaran untuk peduli terhadap lingkungan juga terlihat. Di Leuwinanggung, kediaman Ayah dari Raya Rambu Rabbani itu, tak tampak sampah bertebaran, lingkungannya amat bersih.

Bahkan, ketika konser bulanan digelar di kediamannya, sepanjang konser, para petugas kebersihan juga tampak sibuk memunguti sampah yang berserakan sisa para penonton.

Belakangan, juga tersedia tong-tong sampah bertuliskan Sampah Organik yang bersisian dengan tong-tong sampah bertuliskan Sampah Anorganik, sebagai penanda jika seseorang ingin membuang sampahnya, untuk memudahkan proses daur ulang.

Aktivitas sadar akan kelestarian lingkungan bahkan sampai ke website pribadinya, www.iwanfals.co.id. Di website tersebut, Iwan mensyaratkan agar isu-isu terkait lingkungan juga diberi porsi.

Tujuannya jelas, agar wawasan masyarakat pembaca terhadap pentingnya pelestarian lingkungan jadi lebih terbuka, disamping tentunya dia dapat mengambil peran lebih besar dalam proses penyelamatan lingkungan di porsi yang dimilikinya, sebagai musisi.

Greenpeace, salah satu organisasi berjaringan internasional yang peduli melakukan kegiatan penyelamatan lingkungan, kebetulan sebuah NGO yang dikenal dekat dengan Iwan Fals.

”Iwan Fals, bagi Greenpeace merupakan salah seorang pionir pelestarian lingkungan,” tambah Ari Rostika Utami, Koordinator Pemberitaan dan Kampanye Media Greenpeace, ketika dijumpai di konser November Iwan Fals.

Hadirnya sosok Iwan Fals yang di beberapa kegiatan aktif mendukung Greenpeace, diharapkannya mampu menjadi model bagi para musisi, yang tak disangsikannya, beberapa diantaranya juga sudah tampak peduli pada masalah lingkungan.

Sejauh ini, peran aktif dari banyak kalangan memang semakin diperlukan, terutama untuk menyelamatkan hutan-hutan terakhir milik Indonesia yang berada di Papua, serta sebagian kecil Sumatera dan Kalimantan.

Penyelamatan hutan-hutan terakhir di Indonesia tersebut, jadi semakin mendesak, mengingat daya dukung hutan yang berpengaruh secara langsung terhadap perubahan iklim, sampai efek pemanasan global yang terjadi belakangan ini.

Meski terkendala di political will pemerintah yang dirasanya masih minim untuk melakukan penyelamatan hutan di Indonesia, tidak bisa tidak saat ini pemberlakuan zero deforestation yang berarti penghentian seluruh aktivitas yang menghancurkan dan membabat hutan di Indonesia, atas nama apapun semakin sering diterapkan.

Indonesia menurutnya, saat ini sudah menjadi penyumbang 1/5 dari emisi gas rumah kaca dunia, yang berpengaruh pada iklim dunia. Hal ini terutama karena deforestation hutan di Indonesia yang sangat cepat, dibanding dengan negara pemilik hutan lainnya.

Pemerintah sebetulnya akan memperoleh banyak penghasilan lewat upaya pelestarian hutan, ini jika dibandingkan dengan dampak kerusakan lingkungan dan hutan yang ditanggung masyarakat dan pemerintah yang luar biasa besarnya, karena bencana yang kerap terjadi di Indonesia.

Maraknya kerusakan hutan, sebagai akibat paradigma pemikiran pemerintah yang menganggap hutan sebagai ”barang dagangan” mesti segera dirubah, jika tak ingin hutan Indonesia tinggal cerita.

Baginya, uang yang datang karena pelestarian hutan, jauh lebih besar ketimbang uang yang diperoleh dari aksi pembabatan hutan. Terlebih karena masyarakat bisa hidup dari hutan yang diselamatkan, yang salah satunya bisa difungsikan sebagai kantung wisata.

Demikian pula pengembangan agrobisnis, berdampingan dengan ekosistem hutan yang terjaga, semisal peternakan lebah hutan, pengembangan industri obat herbal, yang sumber dayanya luar biasa banyak di Indonesia.

Hal ini merupakan hal yang patut dikembangkan oleh pemerintah, ketimbang mengandalkan uang investor yang belakangan justru berdampak pada ”tergerusnya” kekayaan hayati di Indonesia dengan ongkos kerusakan lingkungan yang tak lagi bisa diukur.

iwanfals.co.id sempat menanyakan, ada kesan selama ini Greenpeace ”bermain sendiri” dalam melakukan aksi penyelamatan lingkungan, padahal banyak lembaga di masyarakat yang juga bergerak di masalah lingkungan. ”Memang ada kesan seperti itu, Greenpeace yang eksklusif,” tuturnya mengiyakan.

Padahal Greenpeace sejauh ini, sudah bermitra cukup erat dengan Jikalahari, Walhi, WWF, Foker, dan sebagainya. Pandangan eksklusif tersebut, mungkin dikarenakan Greenpeace merupakan organisasi global yang bekerja sinergi dengan organ Greenpeace di negara lainnya.

Ditambahkannya, upaya Greenpeace untuk melakukan aksi penyelamatan lingkungan di beberapa tempat di Indonesia tidak bakal berhasil tanpa dukungan lembaga masyarakat lokal, yang justru sudah lebih dulu eksis di beberapa tempat di Indonesia.

Apalagi baginya, Greenpeace di Indonesia secara organisasi hanya didukung tak lebih 20 orang. ”Bagaimana mungkin kami bisa bekerja sendiri, tanpa bantuan rekan-rekan lembaga lainnya,” tandas gadis manis ini.

Berita Lain

1   Tolak Permen Sebagai Kembalian
2   UN Terus Minta Tumbal
3   STOP Penggunaan dan Pembunuhan Hewan Demi Fashion
4   Obama Diharapkan Membawa Misi Kemanusiaan Terkait Penyalahgunaan Narkoba
5   Sejarah Banjir di Jakarta
6   Banjir Sebagai Konsekuensi Hancurnya Lingkungan
7   COP 15 Kopenhagen Disusupi Agenda Konspiratif
8   Kevin Soedyatmiko, Juara Olimpiade Termuda Dari Indonesia