Memed Fals: Lagu-lagu Iwan Fals Jadi Inspirasi Hidup
Oleh: Andri Oktavia
Malam di salah satu sudut jalan saat peliputan Munas Oi di Kediri iwanfals.co.id sempat memergoki beberapa orang pemuda sedang mengamen. Menariknya, disela siraman cahaya lampu jalan berwarna kuning, beberapa diantaranya terlihat mengenakan kaos bertuliskan judul lagu, album Iwan Fals atau Munas Oi.
Tertarik dengan aktivitas mereka, atas bantuan seorang sahabat akhirnya mau juga mereka diwawancarai iwanfals.co.id. Kebetulan, waktu juga sudah menunjukkan pukul 10 malam. Kegiatan di Jalan Raya Kota Tahu tersebut, tak lagi ramai. Disamping itu, mereka sendiri juga sudah menyepakati untuk leren mengamen malam itu.
Di salah satu lokasi lesehan dekat persimpangan jalan, yang populer dengan sebutan kawasan Sekartaji, iwanfals.co.id sempat nongkrong bareng dengan enam orang pengamen tersebut, yang ternyata para fans Iwan Fals asal kota Surabaya.
Kehadiran mereka di Kediri, untuk meramaikan perhelatan Munas Oi ternyata juga tak meleset. ”Selamat malam, mas,” urai salah seorang pemuda yang bertopi, dengan nada bersahabat sembari menyodorkan rokok hasil mengamen.
Dari bincang-bincang santai dengan mereka, ternyata sosok seorang Iwan Fals tak ubahnya sebagai orang tua bagi mereka. Mereka menyukai Iwan tak sekedar idola. Lebih kuat dari itu, sebagai panutan.
Iwan, dalam lagu-lagunya secara tak langsung sudah mengajarkan falsafah hidup, hikmah perjalanan kehidupan, kritik-kritik sosial, cinta, sampai diamnya seorang Iwan pun, coba diambil hikmahnya oleh mereka.
Salah seorang dari kelompok pengamen ini rupanya berkenan jadi juru bicara. Dia menyatakan banyak pelajaran dari lagu Iwan Fals yang bisa dijadikan tuntunan dalam menempuh hidup yang tidak ringan, bagi pemuda yang memiliki nama Ahmad Nurhadi (30) kelahiran Surabaya yang berprofesi kerja serabutan ini.
Itu mengapa, menurutnya meski banyak yang merupakan lagu-lagu lama, lagu Iwan Fals seperti tak lekang, bahkan semakin enak untuk dilantunkan terutama jika kondisi di lagu tersebut sedang mirip dengan apa yang dihadapi.
Aktivitas mengamen yang dilakukan oleh Memed Fals, begitu dia kerap disapa, sehari-harinya dilakukan di Kawasan Taman Kepu Permai, Perbatasan Kota Sidoarjo dengan Surabaya. Itu pekerjaan yang sering dilakukannya, disamping sebagai kuli batu.
Julukan Memed Fals-nya pun diperolehnya dari para pelanggannya di sekitar perumahan di Kawasan Taman Kepu tersebut, sebab karakter suara yang dimiliki ayah seorang putra ini mirip dengan karakter suara Iwan Fals.
Lucunya, ketika absen dari kegiatan mengamen, karena sedang berkerja menjadi kuli batu, atau beristirahat, para pelanggannya yang sudah biasa disapanya dengan dendang-dendang Iwan Fals kerap menanyakan kabarnya jika alpa. ”Kemana si Memed, kok tidak kelihatan,” urai rekannya yang lain.
Dari hasil mengamen biasanya dia memperoleh penghasilan bersih Rp 40.000. Sementara jika sedang sepi, sering hanya memperoleh Rp 30.000. ”Biasanya bergantung rejeki saja mas, dan saya syukuri itu,” tambahnya. Itu mengapa kehidupannya bersama istri dan anak, bisa dikatakan prihatin.

Di Kota Kediri, sudah sekitar tiga hari-an, Memed bersama beberapa rekannya mengikuti kegiatan Munas. Oleh salah seorang tokoh Ponpes Lirboyo mereka diberi tempat untuk berteduh. ”Kebetulan saya berjumpa dengannya di bus saat hendak menuju Kediri, jadi saya persilahkan menginap di rumah,” urai salah seorang pengurus di Lirboyo ini.
Namun, karena uang yang dibawa oleh dia dan rekan-rekan Oi-nya sudah mulai menipis, akhirnya mereka memutuskan melakukan kebiasaan mereka di Surabaya, cari uang dengan mengamen. ”Lumayan, untuk ongkos pulang ke Surabaya,” tambah Memed. Malam itu bermodalkan ‘gitar bolong’, dia mengamen dan beroleh rejeki lumayan, jumlahnya sekitar Rp 100.000. Diluar beberapa batang rokok yang diselipkan oleh para pengendara serta warga sekitar tempatnya mengamen.
Kepada Mas Iwan, dia menitipkan pesan agar terus berkarya. Apalagi bagi dia dan para rekannya, pelajaran, kisah, dan hikmah dibalik lagu-lagu Iwan Fals tetap ditunggu oleh para penggemar beratnya.
Di akhir wawancara, iwanfals.co.id mendengar dendang Bento dan Untukmu Negeri, lagi-lagi dengan karakter suara yang mirip dengan ayah (Alm) Galang Rambu Anarki. Di sisi bersebelahan juga tampak tatapan mata kelompok biker yang sedang lesehan, ikut menikmati dendang tersebut ditemani roti bakar plus kopi susu.  |