WELCOME, GUEST   |   LOGIN   |   REGISTER !
SEARCH

Ekonomi
Eksklusif
Human Interest
Olahraga
Pendidikan
Perspektif
Politik
Seni & Budaya
Tentang Kami
     
 

Popularitas... Aya-Aya Wae

Oleh : Teguh Siswoharsono

Capek. Itulah ungkapan singkat yang diilontarkan mendiang Mbah Surip saat masih hidup ketika ditanya rasanya menjadi popular. Mbah Surip mengaku waktu istirahatnya berkurang. Dari bangun tidur sampai tidur lagi, diisi penuh dengan kegiatan. Bangun tidur langsung berhadapan dengan sederetan jadwal yang harus dijalani, dari tampil di televisi wawancara dengan berbagai media sampai melayani fans untuk foto bersama dan tanda tangan.

Mbah Surip mengaku banyak hal yang tak bisa dilakukan lagi setelah menjadi sangat popular. Dulu sebelum lagu Tak Gendong popular, Mbah Surip masih bisa naik kendaraan roda dua untuk melancong ke tempat teman atau sekadar nongkrong di kampung artis tanpa ada yang mempedulikan. Kalaupun ada yang menyapa juga tak terlalu heboh. Tidak menuntut lebih. Bisa disapa dari jauh dan cukup melambai.

Setelah popular, harus foto bersama harus menemani untuk sekadar berbincang-bincang dan lain sebagainya. “Wah pokoknya capek. Dari bangun tidur sudah harus aktivitas. Semua teman dan semua juga harus dilayani. Untuk fans, sekarang jarang yang minta tanda tangan. Yang pasti minta foto bersama dan ada yang minta foto sambil digendong,” ungkap Mbah Surip saat masih hidup. Hidupnya mendadak berubah. Irama hidupnya juga berubah. Pengalaman yang dirasakan Mbah Surip berbeda dengan Agnes Monica.

Akibat popularitas, Agnes Monica sempat kecewa. Tepatnya kecewa terhadap sikap pers yang terlalu berlebihan, menunut untuk tampil terlalu sempurna. Begitu ada masalah sedikit, pers lengsung menjelek-jelekan. “Saya kan juga manusia biasa. Perlu pergi ke mal. Boleh salah. Dan masih anak gadis. Jadi jangan terlalu menuntut saya begitu sempurna sehingga tak ada ruang untuk bernafas,” ungkap Agnes.

Pengalaman Yessy Gusman lain lagi. Artis kelahiran Jakarta, 21 Juli 1962 yang popular lewat film Gita Cinta Dari SMA ini, mengaku mempunyai pengalaman seru seputar popularitas. Menurutnya ada penggemarnya yang hingga kini tidak mau menikah kalau Yessy Gusman tidak menikah dengan Rano Karno. “Tapi akhirnya saya jelaskan itu hanya film. Dalam keseharian tidak seperti itu. Dan semua fans saya anggap sebagai sahabat. Alhamdulillah hingga kini, mereka masih dekat dengan kami. Kalau pas ulang tahun suka datang. Karena kebanyakan juga sudah berumah tangga, jadi kita bisa sharing macam-macam,” ungkap Yessy Gusman.

Pengalaman Inul Daratista lain lagi. Begitu popular, nyaris tak punya waktu untuk istirahat. Setiap hari harus melayani wartawan cetak dan infotainment untuk wawancara. Bahkan segala hal yang dilakukan Inul di-ekspos besar-besaran. Nyaris tak ada ruang pribadi untuk dirinya.

Kelompok musik Slank juga menghadapi sikap Slankers, begitu sebutan untuk fans Slank, yang sedikit nyeleneh. Pada saat formasi Slank sedang mengalami pancaroba, saat itu Pay, Bongki dan Indra hengkang dari Slank, anak-anak SMA di DKI mengancam akan tawuran kalau Slank bubar. Untunglah Bimbim dan Kaka segera merekrut personel baru dan Slank tetap berjaya hingga kini.

Yang dialami para pesohor tanah air ini juga dialami legenda musik Indonesia Iwan Fals. Macam-macam yang dilakukan sikap fans terhadap Iwan Fals. Dari yang dosis rendah hingga dosis tinggi. Begitu banyak fans Iwan Fals yang setelah punya anak, mereka beri nama anaknya dengan nama Cikal, Galang, Raya, Rosana dan tentu saja Virgiawan Listanto.

Ada juga fans yang spesialis mengoleksi album-album Iwan Fals yang sudah beredar sampai yang belum beredar di pasaran. Sedikitnya ada 60 lagu Iwan Fals yang belum dirilis di pasaran tapi sudah beredar di kalangan fans. Tak terhitung yang menyimpan foto mereka bersama Iwan Fals.

Ada yang mengoleksi segala hal yang berhubungan dengan Iwan Fals. Malah ada salah seorang fans yang menyimpan rambut uban Iwan Fals. Mereka biasanya suka saling pamer dengan sesama fans apa yang dimiliki. Bahkan rumah Iwan yang berlokasi di Condet juga dibeli oleh fans beratnya.

Bicara soal rumah yang di berlokasi di Gang Haji, Condet, Iwan menyimpan cerita yang cukup banyak. Rumahnya penuh diisi ceoretan-coretan fansnya. Dari situ muncul ide untuk menulis lagu Coretan Dinding. “Nah, karena dinding rumah sudah penuh, belakangan mulai merambah ke tembok lain ke tetangga. Saya jadi merasa nggak enak dengan tetangga, saya pindah rumah lagi,” ungkap Iwan Fals.

Kalau mau disebutkan satu per satu sikap fans tentu tak cukup sehari. Tapi ada juga sikap fans yang cukup mengganggu. Iwan pernah kedatangan fans yang justru ingin dilukai dengan pisau, alasannya untuk kenang-kenangan. Iwan tentu saja menolak. Itu permintaan yang tidak wajar. Tapi fans tetap ngotot tak mau pergi kalau keinginannya belum terpenuhi. “Dengan berat hati saya penuhi. Setelah saya lukai sedikit dia lari kegirangan. Saya bingung. Dia berterima kasih sekali. Sikap fans itu memang aneh-aneh,” ungkap Iwan Fals.

Dan fans Iwan itu berangkat dari berbagai golongan, musisi, polisi, pengacara, pengangguran, laki-laki, perempuan, mahasiswa, anak SMA, anak kecil dan orangtua.

Ada cerita menarik dari salah seorang fans Iwan Fals yang memotong rambut dan kumisnya mirip Iwan Fals. Namany Masri, kebetulan dia juga seorang pemain gitar. Suatu hari Masri nonton konser Iwan Fals di Lampung.

Begitu masuk ke lapangan, seluruh fans Iwan langsung menyerbu Masri ini. Ada yang minta tanda tangan, ada yang mencubit, ada yang minta foto. Pokoknya Masri dibuat kewalahan oleh ribuan fans yang membludak pada saat itu.

“Saya bukan Iwan, saya bukan Iwan. Saya Masri, penggemar Iwan juga. Tolong Pak Polisi, amankan saya,” teriak Masri sambil menghindar kejaran fans Iwan Fals. Walaupun sudah berteriak mengaku bukan Iwan, fans tetap tidak percaya. Mereka tetap yakin bahwa dia adalah Iwan Fals idolanya. Sampai-sampai Masri mengeluarkan KTP untuk membuktikan bahwa dirinya bukan Iwan.

Untunglah polisi segera sigap datang dan menyelamatkan Masri. Sambil ikut menjelaskan kepada fans bahwa orang itu bukan Iwan. Masri segera dievakuasi di sebuah ruangan yang bebas dari kejaran fans. Singkat cerita, Masri aman dari kejaran fans.

Setelah kondisi sedikit aman, tiba-tiba Pak Polisi mengeluarkan kamera saku sambil berujar, “Bang Iwan, saya minta foto berdua, boleh kan?” pintanya. Aya-aya wae...

Berita Lain

1   Sasando, Agar Bisa Hidupi Musisi Timor
2   Nasib Para Jago Terbang Yang Terus Meroket
3   Batik Indonesia dari Seni, Tradisi, Hingga Penghidupan
4   Iwan Fals Di-Kick Andy
5   Wajah KRL Jabotabek Tak Beranjak
6   Tarung Bebas Kediri, Hasrat Bertarung Yang Tak Lekang Oleh waktu
7   Idealisme OCC, Bukti Eksistensi Yang Mesti Dipertahankan
8   Perlu Kesiapan Mental, Fisik dan Skill Agar Relawan Kerja Maksimal