WELCOME, GUEST   |   LOGIN   |   REGISTER !
SEARCH

Ekonomi
Eksklusif
Human Interest
Olahraga
Pendidikan
Perspektif
Politik
Seni & Budaya
Tentang Kami
     
 

Rumah Tradisional Lebih Tahan Gempa

Oleh: Djoko Prayogi

Fenomena alam yang tidak bersahabat membuat masyarakat harus selalu siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. tsunami di Aceh, gempa bumi di Yogyakarta dan Tasikmalaya, serta yang baru saja terjadi, gempa bumi yang terjadi di wilayah Sumatera Barat. Gempa kali inipun kembali memakan korban.

Gempa bumi memang kerap kali terjadi di Indonesia. Apalagi, dalam beberapa tahun belakangan ini, gempa sering sekali terjadi. Fenomena gempa yang beruntun terjadi di Tanah Air membuat masyarakat mulai melirik rumah tahan gempa.

Namun, sebenarnya masyarakat Indonesia tidak perlu lagi pusing membangun konstruksi rumah yang tahan terhadap hantaman gempa. Pasalnya, rumah tradisional nusantara sudah dibangun dengan konsep tahan gempa.

Sejak bencana tsunami dan gempa, disebutkan publik di kawasan Asia berlomba membangun rumah knock-down alias bongkar pasang. Rumah yang diyakini tahan gempa tersebut diminati oleh warga Indonesia, Sri Lanka, India, Thailand dan Malaysia. Uniknya, mereka justru mengincar rumah tradisional Bali.

"Bukan hanya rumah tradisional Bali, tapi hampir semua rumah tradisional kita dirancang dengan kemampuan tahan gempa," ujar Marco Kusumawijaya, arsitek dan pengamat tata kota kepada SH di Jakarta, Senin(11/9).

Konsep tahan gempa ini adalah sebuah rumah dibangun untuk ikut bergerak ketika terjadi gerakan tanah namun tidak mengalami disintegrasi atau kehancuran. Marco menandaskan, bahan dasar rumah tradisional Indonesia mayoritas adalah kayu yang jika ditilik memiliki kelonggaran satu bagian dengan bagian lain, dengan demikian apabila terjadi guncangan maka tidak langsung merusak bagian lainnya. Di samping itu bahan kayu jauh lebih ringan dibanding dengan beton, maka jika rubuh tidak akan mengakibatkan luka separah bahan beton.

"Tapi pengertian tahan gempa di sini tidak berlaku untuk seluruh parameter. Ada batasan tertentu, yakni pada skala berapa richter rumah itu bisa bertahan. Kalau yang terjadi di Aceh dan Nias serta Padang jelas sudah tak berlaku lagi karena tergolong gempa besar," tambah Marco.

Tren terjadinya gempa berkali-kali yang saling berkaitan membuat sebagian penduduk berminat membangun rumah dengan konsep bongkar pasang. Rumah tradisional Bali terhitung banyak diincar. Ini disebabkan rumah tersebut memiliki struktur tahan gempa. Made Suma, tenaga pemasaran pada sebuah perusahaan ekspor rumah gaya Bali di Denpasar, menjelaskan bahwa turis asing yang berlibur ke Pulau Dewata banyak memesan rumah bergaya khas Bali, yang semua bahannya terbuat dari kayu seperti tiang penyangga, dinding, termasuk pacek (pakunya), kecuali atap yang terbuat dari ilalang.

Rumah bergaya Bali yang dibuat secara knock-down, banyak dikapalkan ke luar negeri, karena diproduksi dengan gampang dan praktis sehingga mudah dipasang kembali setelah tiba di negeri konsumen. Rumah-rumah khas gaya tradisional Bali yang diproduksi sesuai permintaan konsumen, dibuat dengan sistem knock-down sehingga memudahkan pengiriman dan setelah tiba di negara pemesan tinggal dirakit sendiri oleh pembelinya.

Seperti kata Marco, bukan hanya Bali, melainkan mayoritas rumah tradisional nusantara memiliki konsep tahan gempa. Di Nias, kawasan yang belum lama ini terkena gempa misalnya, memang sudah memiliki kearifan tradisional dari para arsitek masa lalunya. Sayang rumah semacam ini sudah mulai bisa dihitung dengan jari. Rumah tradisional tahan gempa bisa ditemui di Sihare'o Siwahili, desa di Nias Utara.

Rumah-rumah di Nias, walaupun tidak bereaksi ketika digoyang, secara bijak dirancang dengan prinsip tahan gempa. Ini disebabkan memang warga setempat sudah mengetahui bahwa daerahnya merupakan kawasan rawan gempa. Di bagian kaki bangunan kolom-kolom terbagi menjadi dua jenis, yaitu kolom struktur utama yang berdiri dalam posisi tegak dan kolom penguat yang terletak dalam posisi silang-menyilang membentuk huruf X miring.

Balok kayu ataupun batu besar sengaja diletakkan di sela-sela kolom penguat sebagai pemberat untuk menahan bangunan dari terpaan angin. Sedangkan ujung atas kolom tegak dihubungkan dengan balok penyangga melalui sambungan sistem pasak yang kemudian ditumpangi balok-balok lantai di atasnya.

Kolom-kolom diagonal, tanpa titik awal maupun akhir, jalin-menjalin untuk menopang bangunan berdenah oval dengan kantilever mengelilingi seluruh sisi lantai denah. Bagaikan sabuk, rangkaian balok dipasang membujur sekeliling tubuh bangunan. Di atas sabuk bangunan, sirip-sirip tiang dinding berjarak 80 sentimeter dipasang berjajar dengan posisi miring ke arah luar. Di antara sirip-sirip dipasang dinding pengisi dari lembaran papan.

Pemakaian kolong memang bukan satu-satunya di Nias. Di beberapa wilayah Nusantara, kolong di samping mengemban fungsi struktur juga menciptakan ruang yang cukup efektif untuk menyiasati masalah kelembaban yang ditimbulkan iklim tropis.

Rumah tahan gempa lain berasal dari Muara Bangkahulu, Bengkulu. Konsep rumah ini kembali dibudidayakan oleh Tim Asistensi Teknis Mitigasi Bencana dan Aplikasi Rekayasa Forensik Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi (KMNRT).

Konsep dasar bangunan tahan gempa pada dasarnya adalah upaya untuk membuat seluruh elemen rumah menjadi satu kesatuan yang utuh, yang tidak lepas atau runtuh akibat gempa. Penerapan konsep tahan gempa antara lain dengan cara membuat sambungan yang cukup kuat di antara berbagai elemen tersebut serta pemilihan material dan pelaksanaan yang tepat.

Konsep rumah contoh yang dikembangkan KMNRT tidak hanya mengacu kepada konsep desain tahan gempa saja, akan tetapi mencakup konsep pemanfaatan material setempat, budaya masyarakat dalam membangun rumah, serta aspek kemudahan pelaksanaan. Di bagian fondasi menggunakan sistem fondasi batu kali, hubungan antara sloof dengan fondasi dipergunakan angker setiap 0.5 meter. Hal ini dimaksudkan supaya ada keterikatan antara fondasi dan sloof, sehingga pada saat terjadinya gempa ikatan antara fondasi dan sloof tidak lepas.

Selain di Bengkulu dan Nias, sejumlah daerah lain juga memiliki kearifan tradisional rumah tahan gempa. Sebut saja Makassar, Alor, juga Yogyakarta serta daerah lainnya. Sayangnya rumah-rumah tradisional ini mulai dilupakan banyak orang yang cenderung menyukai rumah bergaya Barat. Bukan hanya rumah tradisional, pada dasarnya semua rumah di Indonesia memang sengaja dirancang tahan gempa kalau memang memenuhi syarat. "Ketika sebuah bangunan didirikan, maka harus memenuhi syarat tertentu.

Syarat itu antara lain harus dibangun dengan kekuatan dan bahan tertentu yang memungkinkan tahan guncangan. Tapi apakah syarat itu memang dipenuhi atau tidak, lain persoalan," tegas Marco.

Sekarang, kita tinggal memilih. Apakah kita ingin kembali ke masa lampau, dengan struktur bangunan yang tahan gempa, atau memilih bangunan bergaya Eropa yang rentan terhadap gempa. Atau, kita memilih tekhnologi tahan gempa, yang biayanya sungguh-sungguh mahal. Yang pasti, saat ini Indonesia, sangat rentan dengan bencana alam.

Berita Lain

1   ROADSHOW 6 KOTA - CIREBON
2   ROADSHOW 6 KOTA - LAMONGAN
3   ROADSHOW 6 KOTA - BLITAR
4   ROADSHOW 6 KOTA - SOLO
5   ROADSHOW 6 KOTA - CILACAP, TASIKMALAYA, BANDUNG
6   Perjalanan Konser Gelar Seni dan Budaya Nias Bangkit
7   Cowboys In Paradise, Realita Atau Nasionalisme?
8   Iwan Fals & Band “Hentak” Launching Buku Arifin Panigoro