Mak Sum, Bertekad Terus Hidup Meski Sulit
Oleh Andri Oktavia Cerita ibukota, lebih banyak cerita mengenai kerasnya hidup, frustasi, semangat atau bahkan keuletan. Namun, cerita ibukota juga selalu mengisahkan enaknya hidup para orang kaya, dan sulitnya hidup bagi orang miskin.
Mak Sum (75), nenek asal Haurgeulis yang semenjak tahun 70-an mengadu nasib di ibukota adalah prototipe manusia yang jarang, atau bahkan tak pernah merasakan nyamannya tinggal di rumah yang besar, perabotan serba lux atau bahkan hidup dalam hangatnya sebuah rumah tangga.
Mak Sum, begitu dia kerap disapa oleh para tetangganya, semenjak setahun belakangan ini, sudah tak sanggup lagi bekerja.
Disamping karena penyakit pernafasan kronis, semacam asma yang menderanya, usianya yang sudah renta, mata sebelah kiri Mak Sum juga rusak karena kecelakaan beberapa tahun silam, terjatuh saat menghindari kejaran petugas Trantib Jatinegara. Maklum, sehari-harinya Mak Sum berjualan keliling nasi dan rokok untuk menyambung hidupnya. Aktivitas ini yang lantas diperangi oleh Pemda DKI.
Wanita renta sebatang kara ini, sekarang justru lebih banyak menghabiskan sisa hidupnya dengan kongkow di salah satu warung milik warga Cipinang Baru, Jatinegara, tak jauh dari Bengkel Kereta Api milik PT KAI. Mengingat usia dan penyakit yang menderanya.
Di sebelah barat warung tersebut, dipisahkan ruas-ruas rel kereta api, tepat di tembok pembatas antara rumah warga dengan stasiun Kereta Api Jatinegara, sebuah bilik berukuran 2,5 x 3 meter adalah rumahnya sehari-hari. Jauh dari kesan memadai, namun cukup layak bagi kalangan miskin kota, ketimbang tak punya tempat tinggal.

Brilian, penggarap video klip Untukmu Terkasih, Iwan Fals. Para pemain video klip tersebut, termasuk Mak Sum, betul-betul dari kalangan yang ekstrim dalam pergulatan mereka untuk bertahan hidup.
Selain Mak Sum, beberapa penyandang cacat, pengemis, juga ikut bermain di video klip Iwan Fals yang cukup menggugah rasa kemanusiaan. Yang cacat, tetap bersemangat melanjutkan hidupnya, sementara yang papa pun demikian.
Saat wawancara, Mak Sum lebih sering terdiam. Meringis menahan sakit di dadanya, akibat penyakit kronis yang didera. Diakuinya, beberapa waktu lalu, dia pernah berobat, karena penyakit nafas yang dikeluhkannya.
Bahkan suatu kali dia mengaku pernah diberi obat oleh dokter dari rumah sakit, dan sempat diambil darahnya, di salah satu rumah sakit di bilangan Kampung Melayu, atas jasa seorang dermawan di Jakarta.
Nenek ini lantas sempat meminum obat tersebut sebanyak tiga kali. Karena tidak merasa nyaman terlebih dirasakannya ada gangguan setelah meminum obat, obat tersebut tidak dilanjutkannya. "Mungkin dokternya salah meriksa nenek," katanya.
Kini, siksaan rasa sakit sulit bernafas lebih sering dirasakan. Di pagi hari, sekitar pukul 2, usai buang air kecil, dia tak lagi bisa tertidur. "Biasanya saya duduk-duduk sampai pagi di rumah, karena sesak nafas. Kata orang sih, ini penyakit asma," tambahnya.
Di usianya yang kian senja, dia mengaku kangen dengan para keponakannya dan ingin bertemu mereka. Para keponakannya tinggal di Jawa dan Bandung, namun dia mengaku tidak mengetahui pasti dimana mereka tinggal. "Mungkin kapan-kapan saya bisa bertemu mereka," urai wanita sebatang kara ini.
Disamping keponakannya, yang membuat dia galau, sudah enam tahun ini, pasangan hidupnya meninggalkan dia, hingga membuat hidupnya makin terasa berat. "Laki saya pamit ke Lampung, enam tahun lalu. Tetapi sampai sekarang belum kembali, padahal masih mendingan kalau ada dia. Ada yang membantu saya mencari nafkah, atau merawat," tambahnya dengan nada sedih.
Nenek ini mengaku bersyukur juga, karena saat ini lebih mudah menjalani hidupnya. Semenjak berperan di video klip, Untukmu Terkasih, dia mengaku kerap diperhatikan oleh seorang dermawan. Bahkan, dikatakannya orang tersebut menyantuninya.
Uang yang diberikan dermawan tersebut, dikatakannya lantas diberikan sebagian untuk tetangga yang merawatnya. Tetangga itu sehari-hari menyiapkan minum, air, mandi, sampai memasakkan makanan untuknya. "Karena banyak aktivitas, yang tidak bisa lagi saya lakukan," tambahnya.
Tinggal di seputar Stasiun Jatinegara, jauh dari kesan nyaman karena hanya berjarak beberapa meter saja dari rel kereta, dilakoninya semenjak lama. Padahal sewaktu muda, dia hidup mengontrak di bilangan Kayu Manis.
Saat usia memasuki senja, kalau badan sedang sehat Mak Sum mencari makan "dua hari untuk makan seminggu". Biasanya dia mencari beras bermodalkan sapu lidi di bilangan Pasar Induk Pisangan.
Beras-beras sisa yang berjatuhan di beberapa kios di pasar, dikumpulkannya. Beras-beras tersebut lantas dicuci dan dijual, sementara hasilnya lumayan. Dalam dua hari kerja, dia sudah bisa makan selama seminggu.
Saat masih muda dan kuat, Mak Sum mengaku beraktivitas sebagai pedagang rokok dan nasi sambil berkeliling. Nasi-nasi itu dibungkusi dan dijual. Waktu itu, dia mengaku setiap hari kuat berjalan jauh berkilometer sembari membawa beban nasi bungkus seberat lima kilogram. Tetapi sekarang aktivitas-aktivitas seperti itu tak lagi bisa dilakukannya.
"Salam saya buat Mas Iwan, Mak lagi sakit..." tambahnya di akhir wawancara.
|