WELCOME, GUEST   |   LOGIN   |   REGISTER !
SEARCH

Ekonomi
Eksklusif
Human Interest
Olahraga
Pendidikan
Perspektif
Politik
Seni & Budaya
Tentang Kami
     
 
1   Hikmah Iwan Fals Ke Demak: Leuwinanggung-Demak Harapan Untuk Hijaunya Hari
2   Iwan Fals Tanam Pohon Trembesi di Demak
3   Perjalanan Religi Iwan Fals 2
4   Perjalanan Religi Iwan Fals 1
5   Album KESEIMBANGAN Iwan Fals Tajam Memotret dan Bicara Soal Sosial

Hikmah Iwan Fals Ke Demak: Leuwinanggung-Demak Harapan Untuk Hijaunya Hari

Oleh: Andri Oktavia

Rabu pagi (26/5), Iwan Fals dan tim bersiap berangkat menuju Demak- Jawa Tengah, memenuhi undangan PT Djarum yang menggelar program Djarum Trees For Life, sebuah program penyelamatan lingkungan yang digagas PT Djarum.

Kehadiran Iwan Fals di lokasi tersebut, untuk melakukan penanaman pohon Trembesi, sekaligus membawakan beberapa buah lagu, menghibur khalayak yang hadir dan undangan, serta menyuarakan agar gaung penyelamatan dan pelestarian lingkungan yang dilakukan oleh Djarum, lebih terdengar oleh masyarakat luas.

Mainan Baru Tiga Rambu
Rombongan yang berangkat, ada yang menggunakan pesawat, sebagian lainnya termasuk Iwan Fals memilih menggunakan moda transportasi paling gres dari Tiga Rambu, bus panggung, sebuah bus baru yang untuk kali keduanya digunakan bagi perjalanan Iwan Fals di kegiatan musikalnya.

Pada pengalaman pertamanya, bus ini tampak tangguh melahap ruas-ruas jalan yang dilaluinya saat Iwan Fals pada bulan sebelumnya menggelar safari religinya ke beberapa pesantren di tujuh kota di Jawa Tengah. Evaluasi terhadap bus juga dilakukan. Dan hasilnya kali kedua bus berangkat, kondisinya semakin nyaman ketika ditumpangi.

Sepintas mobil ini tak terlalu berbeda dengan bus lainnya, atau malah sekilas mirip OB Van. Namun, bus berkekuatan 3000 cc tersebut memang multi-fungsi, tidak sekedar sebagai kendaraan angkut Iwan Fals dan kru, melainkan bisa disulap menjadi sebuah panggung konser mini pada bagian belakangnya.

Saat Iwan dan tim rombongannya kelelahan, kursi-kursi di bagian dalam kendaraan bisa dilipat dan membentang cukup luas, hingga menjadi tempat tidur dadakan yang lumayan nyaman. Di luar itu, supply elektrik kendaraan ini pun mampu mendukung keperluan konser musik, di areal yang luasnya nyaris separuh lapangan sepakbola.

Tepat pukul 9.30, bus yang dikemudikan oleh Pak Ajum tersebut meluncur meninggalkan kawasan Leuwinanggung-Depok, lebih 300 km ke arah timur menuju Kota Wali, Demak, kota tujuannya. Tak ada kesan terburu-buru, bus perlahan namun pasti, meninggalkan kediaman Iwan Fals.

Perjalanan Penuh Keriangan
Yang menumpangi kendaraan ini hanya lima orang. Masing-masing, Iwan Fals, Ferry, Firman, Manto, iwanfals.co.id serta Pak Ajum, sebagai pengemudinya.

Lepas dari kawasan Depok, bus tak lama sudah memasuki kawasan Tol Jakarta – Cikampek, yang tampak padat merayap, karena di beberapa ruasnya terlihat beberapa kendaraan mengalami kecelakaan lalu lintas atau karena perbaikan sebagian badan jalan.

Saat berangkat, seperti tak hendak digantikan, Iwan Fals memilih duduk di samping pengemudi, Ajum. Sesekali ketika rombongan diserang ”hawa” mengantuk, Iwan Fals meraih gitar, beberapa lagu didendangkannya. Lamat-lamat terdengar, materi yang dinyanyikannya rata-rata lagu yang akan dibawakan oleh Iwan Fals pada acara Djarum Trees For Life atau materi lagu yang akan dibawakannya pada konser tanggal 31 Mei di Hard Rock Cafe.

Sedikit agak di belakang Iwan, Ferry, yang setia menemani Iwan Fals. Dia tampak duduk santai. Beberapa kali gitar berpindah tangan, dari Iwan ke Ferry, begitu sebaliknya.

Sementara di sebelah kiri Ferry atau tepat di belakang Iwan Fals, iwanfals.co.id duduk bersisian dengan Firman yang tampak sibuk. Sebentar-sebentar pemuda asal Sukabumi ini menyorotkan handycam-nya ke ”segala arah”. ia seperti hendak menyatakan, ”Jangan main-main dengan handycam-ku, nyaris tak ada momen yang terlewat.”

Siang hari sekitar pukul 2 siang, tim berhenti untuk ”mengisi tangki” di sebuah rumah makan langganan yang kerap disambangi oleh rombongan Iwan Fals, ketika melakukan perjalanannya. Bukan apa-apa, selain menyediakan tempat makan yang nyaman, rumah makan ber-trademark ini, juga banyak tersebar di sepanjang Pantura, jadi paling mudah dijangkau.

Seperti biasa kalau makan di rumah makan ini, pengunjung akan disuguhi permainan sulap yang jadi hiburan khas tempat ini. Bahkan kabarnya, nyaris seluruh kru maupun pelayan rumah makan ini jago bermain sulap.

Hiburan kali ini, yang disuguhkan kepada rombongan Iwan Fals adalah permainan kartu. Cukup dengan menyatakan ada atau tidak, tanggal lahir tamu pada lembar demi lembar kartu yang disodorkan kepada para tamu, peramu saji sudah akan tahu berapa tanggal lahir dari tamu yang diajaknya bermain.

Tebakan pertama tentu diarahkan oleh peramusaji kepada Iwan Fals. Sukses menebak tanggal lahir Iwan Fals, lantas berturut-turut pramusaji menebak tanggal lahir beberapa kru Iwan Fals, termasuk iwanfals.co.id.

Usai menebak, lantas pramusaji meninggalkan rombongan. Sebelumnya dia menjelaskan kunci jawaban dari permainan kartu tersebut, dan meninggalkan beberapa set kartu untuk dibawa oleh rombongan.

Hebatnya, di tangan kru Iwan Fals, kartu-kartu tersebut tidak sekedar mampu menebak tanggal kelahiran, melainkan juga berkembang, mampu menebak dengan tingkat akurasi hingga 100%, tanggal, bulan dan tahun kelahiran. ”Untuk tahun kelahiran mesti kerja dua kali, cari buntutnya dulu, baru depannya, ”urai Ferry, yang tampak mulai ahli memainkan kartu tersebut.

Buntutnya,giliran sang pramusaji yang ditebak, dengan akurasi 100%, tanggal, bulan dan tahun kelahirannya oleh Ferry. Hasilnya, sang pramusaji itu hanya cengengesan, sembari menyodorkan kamera minta dipotret bersama Iwan Fals.

Tak berapa lama tim mulai bergerak kembali. Kali ini karena sudah ”mengisi tangki”, perjalanan jadi lebih semarak. Buktinya, Iwan Fals sudah tak lagi kebagian main gitar. Dia malah kini tampak tertidur di bangku depan.

Waktu terus berjalan, senja pun mulai datang. Tak berapa lama usai menunaikan ibadah shalat Ashar yang lantas disambut dengan shalat Maghrib di dua SPBU yang dilewati, tim kembali bergerak. Lepas dari kawasan Alas Roban, tim menyempatkan makan malam di sebuah rumah makan spesialis sate dan tongseng.

Iwan Fals tampak melahap tongseng, sembari menanyakan menu andalan lain berupa sate kambing di rumah makan kawasan Kota Batang. Puluhan fans Iwan Fals tampak sudah berkumpul di sekitar rumah makan, yang kebetulan memergoki kedatangan Iwan.

Cukup lama, tim beristirahat di rumah makan yang tenar ini. Hingga fans Iwan Fals yang menanti di sekitar rumah makan bertambah ber-kali lipat jumlahnya, sekitar 40-an orang. Di tempat ini, obrolan yang mengemuka, seputar pergantian Wakil Menkeu dan pengunduran diri Anggito Abimanyu dari Kemenkeu.

Sekitar satu jam tim beristirahat, waktupun menunjuk pukul 9 malam, tim bergegas meninggalkan rumah makan. Sebelumnya Iwan Fals sempat melayani foto bersama dengan pemilik rumah makan dan para fansnya, yang sudah menunggu sedari tadi. Sesudahnya, tim melanjutkan perjalanan ke Demak, namun transit terlebih dahulu di hotel elit kawasan Simpang Lima, Semarang.

Singkat kata, perjalanan menuju Simpang Lima, Semarang, tempat dimana hotel tempat menginap rombongan berada, ditempuh dalam waktu dua jam. Tampak Titin dan Silla yang sudah tiba terlebih dahulu tiba, menyambut kedatangan rombongan di lobi hotel.

Sebelumnya, karena sekamar dengan Mame, iwanfals.co.id sempat mengobrol dengan Mame. Isinya seputar kiprahnya yang lebih dari 10 tahun menjadi kru Iwan Fals. iwanfals.co.id lebih banyak menimpali, sebelum akhirnya tertidur pulas hingga pagi hari menjelang.

Tepat pukul 7 pagi, Mame sudah membangunkan iwanfals.co.id, tujuannya jelas mengajak segera sarapan pagi. Benar saja, ruang makan lantai 2 masih tampak sepi, hingga sarapan pagi jadi lebih leluasa.

Sesudahnya, iwanfals.co.id kembali ke kamar, mempersiapkan peralatan reportase yang dibawa. Sementara Mame kembali menonton TV, menunggu kabar keberangkatan kru sound yang mesti berangkat lebih awal, dibanding rombongan untuk mempersiapkan peralatan penunjang sound system, agar baik saat digelar mini konser nanti.

Pukul 10 pagi Mame berangkat ke lokasi acara, bersama Manto, lantas iwanfals.co.id beranjak mengunjungi kamar Ferry cs di lantai empat. Di kamar tersebut tampak berserakan, komputer, kertas-kertas, serta beberapa peralatan lainnya. Maklum, di kamar ini koordinasi mengenai acara juga banyak digelar.

Sejak Lama, Djarum Gelar Program CSR
Sekitar pukul 1 siang, menggunakan bus panggung, tim berangkat ke lokasi acara. Sementara iwanfals.co.id naik mobil panitia, bersama Titin, Silla serta Budi Ismoyo (perwakilan dari PT Djarum). Sepanjang perjalanan, Budi Ismoyo tampak menjelaskan tentang Kota Demak, serta riwayat sejarah kota tersebut.

iwanfals.co.id tampak tertarik mendalami penjelasan Budi Ismoyo pada program penghijauan yang sudah dilakukan oleh Djarum. Menurutnya, Djarum selama beberapa dasawarsa ini tampak peduli pada pengembangan maupun pembinaan program-program CSR, terutama terkait pendidikan, olah raga, serta penghijauan.

Pada lapangan olah raga, Djarum menurutnya peduli mengembangkan olahraga bulutangkis, disamping olah raga lainnya. PB Djarum sudah melahirkan nama-nama besar atlet bulutangkis nasional, diantaranya Liem Swie King, Minarti Timur, Edy Hartono, Rudy Gunawan, Alan Budi Kusuma, Hastomo Arbi, Ivana Lie, Haryanto Arbi dan lain-lain.

Khusus bulutangkis, klub Djarum adalah klub terbesar di dunia, yang dihuni ratusan atlet bulutangkis dari seluruh Indonesia. Sementara Gelanggang Olah Raga Bulu Tangkis Djarum, termasuk yang terbesar di dunia, dengan luas mencapai puluhan hektar. Termasuk belasan lapangan bulutangkis di dalamnya, plus asrama, perpustakaan, serta sarana penunjang lainnya.

Di lapangan penghijauan, Djarum sudah menggelarnya melalui kepedulian selama tiga dasawarsa terhadap lingkungan, melakukan penghijauan, termasuk hari ini yang sedang digelar di Demak. Di luar itu, Djarum juga peduli pada bidang pendidikan, diantaranya lewat Program Beasiswa Djarum.

Mendengarkan penjelasan Budi Ismoyo, lantas iwanfals.co.id mengalihkan pandangan pada deretan tanaman Trembesi, yang terhampar sepanjang Jalan Raya Semarang-Demak. Sebagian pohon tersebut sudah cukup tinggi, mencapai dua meter. Sementara sebagian lainnya tampak masih pendek, berukuran sekitar satu meter.

Budi menjelaskan, pohon-pohon yang tertambat pada tiang berwarna merah sebagai penanda program Djarum Trees For Life, selama penanaman semenjak awal tahun ada yang mati, oleh karena cuaca maupun serangan ternak.

Pohon-pohon yang mati tersebut, lantas ditanami kembali oleh Djarum. Itu mengapa menurutnya, tampak ada pohon trembesi yang sudah besar, namun ada pula yang masih tampak kecil.

Semenjak keluar dari tol Semarang-Demak, hingga lokasi acara, pohon-pohon trembesi yang penanamannya berjarak sekitar 15 meter satu dan lainnya itu, memberi semangat baru dan optimisme akan hijaunya jalan raya Semarang-Demak. Diatas fakta milyaran kilogram setiap tahunnya CO2, dapat diserap oleh pohon yang menurut penelitian, pohon trembesi paling besar kemampuannya menyerap CO2.

Setiba di lokasi acara, ratusan masyarakat sudah berkumpul. Mereka tampaknya ingin melihat apa gerangan sore itu yang sedang terjadi di sekitar lokasi desa mereka. Tua-muda, besar-kecil semua tampak antusias.

Iwan Fals tiba di lokasi acara sekitar pukul 14.30. Sementara, di lokasi acara sudah tampak hadir pimpinan klub Djarum FX Supanji, Alan Budi Kusuma, Susi Susanti serta Haryanto Arbi. Rangkaian prosesi acara dimulai tepat waktu pada pukul 15.00.

Tampil Di Lebatnya Hujan
Puluhan wartawan nasional dan lokal Semarang pun sudah “mencecar” mereka berempat dengan pertanyaan-pertanyaannya. Begitupun dengan camat Wonosalam, juga sudah usai memberi pidato sambutannya, menyusul acara menanam pohon trembesi juga sudah dilaksanakan.

Giliran yang paling ditunggu, Iwan Fals naik ke panggung. Iwan membawakan lagu-lagunya, berturut-turut lagu Hutanku, Pohon Kehidupan, Tanam Siram, Bento dan Bongkar.

Saat Iwan mulai melantunkan lagu-lagunya, hujan deras pun mengguyur. Serentak penonton yang sedari tadi berada di luar arena, merangsek maju ke dalam lokasi acara. Mereka kini sudah membaur dengan undangan, dan para tamu acara.

Petugas yang menjaga keamanan pun tampak melonggarkan penjagaan, mengingat hujan yang turun begitu deras, merekapun tampaknya takut kebasahan.

Usai mendendangkan beberapa lagunya, giliran halilintar pun ikut menggelegar, padahal ini di daerah Demak, daerah yang kabarnya jarang terdengar halilintar. Saat hujan deras disertai angin semakin mengguyur, Iwan tetap melantunkan lagu-lagunya. Penonton banyak yang mulai basah kuyup, begitupun dengan tamu undangan, karena air hujan yang masuk ke tenda-tenda mereka, tak dapat lagi dihalangi.

iwanfals.co.id bergegas mengabadikan adegan, saat Iwan mulai turun dari panggung, membaur bersama penonton, hingga sebentar kemudian Iwan kembali ke atas panggung. Iwan tampaknya ingin merasakan keriangan para penggemarnya, menonton konser di bawah siraman hujan.

Kunjungan Pabrik Rokok dan GOR PB Djarum
Tak berapa lama, bus panggung yang ditumpangi kembali meluncur meninggalkan lokasi acara. Di dalam kendaraan, Iwan Fals segera berganti baju, mengingat baju maupun celana yang digunakannya basah kuyup.

Dia juga sempat menunjukkan kepada Budi Ismoyo, perwakilan PT Djarum, tentang sarana dan kelengkapan bus panggung yang dimilikinya. Budi tampak hanya menggeleng-gelengkan kepala tanda takjub.

Tim lantas bergeser menuju ke pabrik rokok Djarum. Di lokasi yang bersebelahan dengan pabrik elektronik Politron, milik Djarum ini, tim ditemani oleh Budi Ismoyo, Iwan tampak melihat-lihat fasilitas pembuatan rokok, yang memperkerjakan sekitar 70.000 orang, dan berdiri di atas tanah seluas 20 hektar.

Seluruhnya, di unit 1 pabrik ini, ada 11 line alat produksi rokok, mulai pemotongan tembakau, pencampuran, pemotongan rokok, pemasangan filter rokok, hingga proses pengemasan produk.

Kabarnya, untuk memproduksi rokok, dikerjakan oleh tujuh mesin pembuat rokok seharga 85 milyar per unit-nya, kapasitas pabrik ini diisi oleh tujuh mesin otomatis pembuat rokok kretek (mesin).

Tak berapa jauh dari lokasi ini, berdiri juga pabrik unit dua. Di pabrik tersebut diproduksi sekitar 100 jenis rokok yang dikhususkan untuk ekspor internasional. Menurutnya, di Indonesia rokok-rokok tersebut sulit untuk ditemui, kecuali di hotel berbintang.

Itupun para pengusaha hotel mesti mengimpornya dari eksportir luar negeri, kendati produksinya dilakukan di Kudus oleh Djarum.”Ini berhubungan dengan prinsip perdagangan,” urai Budi.

Usai mengunjungi pabrik rokok, tim bergegas melakukan makan malam, ditraktir oleh Budi Ismoyo, ke salah satu rumah makan yang terkenal enak di Kota Kudus. Setelahnya, tim kembali bergeser ke GOR PB Djarum, seluas 40 hektar, sebuah GOR bulutangkis terbesar di dunia. Keseluruhannya ada 16 lapangan bulu tangkis di dalam GOR ini.

Begitu tiba di lokasi (GOR PB Djarum), Iwan Fals disambut dan ditemani oleh pimpinan pelatih PB Djarum, FX Supandji, bersama dengan Hastomo Arbi (eks-pebulutangkis nasional PB Djarum). Sebentar kemudian dia tampak memperhatikan deretan foto para pebululutangkis PB Djarum (Hall Of Fame).

Selanjutnya, Iwan Fals tampak berbincang-bincang santai dengan FX Supandji, maupun Hastomo Arbi, yang surprise oleh kedatangan rombongan. Di salah satu sudut, tepatnya di ruang penyimpanan piala PB Djarum, Iwan bahkan sempat berpose sembari mengepalkan tangan dilatari piala-piala PB Djarum. Sebelumnya rombongan juga sempat mengunjungi perpustakaan.

Yang terakhir, rombongan yang terdiri dari Iwan Fals, Ferry, Firman, Manto, Titin, Silla, iwanfals.co.id, dan Mame, mengunjungi hall latihan PB Djarum, yang berisi 16 lapangan bulutangkis.

iwanfals.co.id sempat menanyakan kepada seorang pemain cilik PB Djarum, yang kebetulan berpapasan, Erick, remaja asal Bekasi yang baru berusia 13 tahun ini, mengatakan, kehadirannya menjadi atlet PB Djarum, terutama karena cita-citanya menjadi pemain nasional sekelas Taufik Hidayat. Taufik menurutnya, dikagumi karena memiliki teknik yang komplit serta back hand smash yang dikenal keras.

Menurutnya, berlatih di PB Djarum sangat menyenangkan. Terutama karena semua peralatan dan sarana olah raga yang diperlukan untuk berlatih bulutangkis, tersedia dan tinggal digunakan. Demikian pula dengan sarana menginap dan kebutuhan sehari-hari yang terjamin.

Setahun yang lalu, Erick resmi menempati asrama atlit bulutangkis PB Djarum. Dari ribuan peserta yang mendaftar asal seluruh Indonesia, 24 orang diantaranya berhasil masuk ke fase karantina, termasuk dirinya.

Oleh karena keputusan siapa yang mesti menempati asrama atlit dan masuk ke program pembinaan Djarum, lantas menyisakan dia dan empat rekannya, yang resmi menjadi keluarga besar Djarum, sementara yang lainnya dinilai gagal.

Selain Erick, ada juga kalangan dalam yang dijumpai iwanfals.co.id. Lelaki yang karyawan PB Djarum ini menuturkan, kendati seleksi masuk menjadi atlit Djarum digelar setahun sekali, namun menurutnya evaluasi maupun degradasi pemain hingga pemulangan pemain ke daerah asal dilakukan setahun dua kali.

Beruntung Erick termasuk yang berprestasi di PB Djarum, di beberapa kejuaraan yang sempat diikutinya. Semisal di Cirebon Open 2009, Akmil Magelang 2009, Piala Walikota Surabaya 2010, remaja yang tampak cerdik ini, mampu meraih juara ke-tiga, di dua kejuaraan pertama yang diikutinya tersebut.

Setelahnya, rombongan tampak berpamitan dengan para pendamping yang dengan setia menemani. Saat itu sekitar pukul 8 malam, mereka Budi Ismoyo, FX Supanji dan Hastomo Arbi, jabat dan lambaian tangan mereka, menjadi penutup jalan-jalan Iwan Fals dan Rombongan ke Demak.

Keesokan harinya, tim sudah berada kembali di Leuwinanggung. Bus masuk ke kediaman Iwan Fals pukul 10.30. Iwan Fals baru tampak terbangun dari tidurnya pukul 8.30, dalam kondisi segar, usai istirahat panjangnya di bus.